mainteater

Pentas Ladang Perminus

August 22, 2009 · Leave a Comment

Komentar mengenai pementasan dari para audiens (pelajar, guru, masyarakat umum di Bandung-Jakarta):

Fabulous! kawan-kawan di pementasan berhasil menyajikannya dengan sangat apik dan memberi kesan bahwa hidup kita ini adalah sandiwara nyata dimana setiap orang adalah peran utamanya (0856—)

Bagus, tapi maaf ceritanya mungkin terllau berputar-putar maaf ya , tapi keseluruhan sudah bagus. (0833—)

Top dech pokonya (0898—)

Plotnya cukup terbnagun, tapi beberapa peran pembantu masih kaku dan kurang natural seperti masih menghapal, Cuma segitu maklum ga nonton sampe beres (0812—)

Ok, sangat bagus alangkah baiknya kalau dibuat film, akan sangat bermanfaat bagi guru sebagai media pembelajaran. (0817—)

Tema yang mengangkat masalah korupsi yang sudah mengkristal, bahkan sulit ditumpas sangat menarik bagi saya, ini merupakan gambaran negatif bagi kita semua tentang keadaan negara. Mengenai tampilan pementasan, mimik pelaku dll saya angkat jempol, saya belajar banyak hal ketika melihat pementasan tersebut khususnya mengenai teater, pokonya saluut deh moga sukses (0813—)

Pertunjukan teater Ladang Perminus menurut nsaya sudah hampir sempurna. Saya harap cerita dalam pertunjukannya lebih diperjelas. Thank’s. Semoga sukses (0852—)

Pementasan yang diselenggarakan ini sangat menarik dan menambah pengetahuan kita di bidang korupsi. Ditambah dengan akting orang-orang yang memerankannya, membuat ceritanya seperti sungguhan. Saya merasa senang telah diundang menonton Ladang Perminus. (0898—)

Mestinya pementasan ini dipertunjukkan di depan wakil rakyat… ada bagian-bagian yang ga jelas maksudnya (pramugari lagi ngobrol) tapi secara keseluruhan menarik banget buat ditonton (0812—)

Bagus, cukup menyentuh untuk berkaca diri dalam pembelajaran tentang kepribadian yang jujur dan bertanggung jawab untuk generasi penerus bangsa yang bersih dan bertransparansi dalam mengaudit keuangan negara, alangkah baiknyalagi acara seperti ini jangan hanya satu departemen saja. Terima kasih. (Renja, smkn 2 jakarta)

Agak monoton pas pergantian latar tempatnya (0857—)

Owh, mpentasnya keren abiez.. ini bisa dijadikan contoh buat anak-anak muda sekarang (0898—)

Pementasannya bagus, tapi saya kurang paham endingnya. Kenapa Kahar itu harus dimakankan di taman makam pahlawan? Apa karena dimakamkan di sana bisa disebut seorang pahlawan? (0229294—)

Bagus. Penghayatan maksimal. Karakter tokoh sesuai. Tetapi pengantar alur terlalu panjang, beberapa bloking membelakangi penonton sangat mengganggu (0815—)

Aktor, aktris bermain total. Skenario ok banget. Tata lampu panggung hebat! Kalo durasi persingkat tanpa mengurangi inti cerita akan lebih ok (0812—)

Perlu ada tambahan adegan agar amanat yang diusung mengalir dan terjaga, terutama penonton awam yang terbiasa disuguhi menu sinetron. (0852—)

Bagus. Saya kagum dengan pementasan malam itu. Pemain sangat menjiwai. Kostum pemain sangat pas. Tata ruang/setting sesuai adegan. (08152—)

Menurut Wy teaternya tuh bagus banget ngasih pesannya tuh bagus, udah gitu aneh aja gitu seorang koruptor bisa jadi pahlawan. Si Bapak Hidayatnya itu meskipun berperilaku baik tapi mempunyai simpanan gitu, jadi ngebuat si penonton tuh aneh gitu! Kahar pahlawan yang jasanya itu entah di mana tapi jadi pahlawan. (0857—)

Keren! Serius, sarat pesan. Saya yakin proses adaptasinya dan latihan memakan waktu lama. Tokoh Hidayat dan Kahar yang sangat menarik membuat cerita sangat hidup. Sukses dan hebat! (Tanti SMA 8)

Bagus dan mendidik. Pemeranan juga sudah cukup pas. (Decky, SMA 19 Bandung)

Bagus tapi kurang jelas waktu akhir ceritanya. (0856—)

Bisa dijadikan sebagai contoh kehidupan bahwa kita dilarang melakukan perbuatan korupsi sekecil apapun. (0852—)

Sebuah pementasan yang membukakan kesadaran atas bobroknya pejabat, kegamangan manusia jujur yang diming-imingi upeti, dan perjuangan untuk tetap bekerja idealis dan bermoral. (0852—)

Bagus, menarik tepat ditonton oleh generasi penerus. Mudah-mudahan melalui pementasan teater itu generasi muda lebih tergugah nuraninya untuk di kemudian hari bila menjadi orang yang punya wewenang tidak menyalahgunakannya sebab cepat/lambat akan berending tragis. (0852—)

Teaternya cukup menarik. Semuanya dilakukan dengan sangat rapi. Tapi tempatnya kurang nyaman sehingga suara dari luar ruangan mengganggu konsentrasi untuk menyimak teater itu. (0898—)

Bagus, sangat baik untuk dijadikan mediator penyampaian penyuluhan budaya korupsi pada cikal bakal para calon pemimpin bangsa, namun menurut saya peran yang disajikan masih cukup kasar bagi pemikiran seorang pelajar, sehingga diperlukan pemikiran-pemikiran tertentu untuk mencerna apa yang akan disampaikan pada pementasan teater itu sendiri sebagai mediator penyuluhan budaya korupsi. (0857—)

Ladang Perminus sangat top dan diacungi jempol karena berkat itu kita sadar akan kekayaan alam yang kita punya selama ini jadi incaran para koruptor. (0881—)

Asyik, segar. Semula kupikir bakal bete, gak taunya betah sampe selese. Apalagi musik ok! (0811—)

Pementasannya bagus. Walaupun temanya serius tapi tetap bisa disampaikan dengan menghibur. Cuma untuk pola pergantian settingnya mungkin bisa diberikan beberapa variasi supaya tidak kesannya terlalu teknis mengingat banyaknya pergantian setting. (Wewe)

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized

foto dibawah lapisan es

June 24, 2009 · Leave a Comment

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized

ladang perminus

June 17, 2009 · Leave a Comment

Perkumpulan Seni Indonesia, Indonesia Corruption Watch, mainteater bandung, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, dan Perkumpulan Praxis sedang mempersiapkan pementasan teater LADANG PERMINUS yang diadaptasi dari novel Ramadhan KH (dengan judul yang sama).

Pentas bulan AGustus di Bandung (GK Rumentang Siang) dan Jakarta (Graha Bhakti Budaya TIM)

BANDUNG:

6 – 8 Agustus 2009

Pukul 14.00 WIB (pelajar)

6 – 7 Agustus 2009

Pukul 20.00 WIB (umum)

GK Rumentang Siang

Jalan Baranang Siang No. 1 Bandung

JAKARTA:

12 – 13 Agustus 2009

Pukul 14.00 & 20.00 WIB

Graha Bhakti Budaya TIM

Jalan Cikini Raya No. 73 Jakarta

don’t miss it!!

LATAR BELAKANG

Skandal demi skandal muncul dan menggerogoti neraca pembayaran minyak dan gas (migas) ke dalam kas negara. Media massa tak pernah kehabisan ide sekaligus bahan untuk menulisnya. Sebab, tradisi merampok di rumah sendiri telah berurat-berakar secara kuat di bidang migas ini. Harian Indonesia Raya, yang akhirnya dibredel untuk selamanya oleh rejim Orde Baru yang sangat korup merupakan media yang paling rajin menulis korupsi, kolusi, nepotisme dan kroniisme – di tubuh Pertamina. Pertamina bak sapi gemuk yang habis badan akibat diperah para penghuni dan penguasa negeri ini.

Anab Afifi dalam “Seabad Migas Indonesia: Dari Cengekraman Asing hingga Skandal  Korupsi” (2007) menyebutkan keberhasilan media cetak mengendus KKN di Pertamina sebagai prestasi yang luar biasa. Sebab mengakses data keuangan di perut Pertamina saat itu merupakan hal yang mustahil. Transparansi audit keuangan masih menjadi barang langka. Oleh sebab itu, Indonesia Raya juga harus mati muda. Sementara korupsi dengan segala bentuk dan model yang mendarah daging di dunia industri minyak negara sulit, yang selalu disebut-sebut melibatkan Soeharto, keluarga, dan para kroninya di masa Orde Baru tak pernah terbongkar secara tuntas dan melegakan rakyat.

Pada edisi 30 Januari 1970 Indonesia Raya menulis, simpanan Ibnu Sutowo, pendiri dan direktur utama Pertamina, mencapai Rp. 90,48 miliar. Jumlah yang fantastis karena kurs rupiah saat itu hanya berada pada angka Rp. 400. Koran yang dipimpin oleh jurnalis sekaligus sastrawan Mochtar Lubis itu juga menurunkan tulisan tentang akibat jual beli minyak lewat jalur kongkalikong pimpinan Pertamina saat itu dengan pihak Jepang, yang merugikan  negara hingga 1.554.590,28 dolar AS.

Lewat papernya yang banyak diposting di dunia maya itu Afifi juga menulis, pada 1975, Ibnu Sutowo mewariskan utang 10,5 miliar dolar AS. Utang ini nyaris membangkrutkan Indonesia. Penerimaan negara dari minyak saat itu hanya 6 miliar dolar AS. Ibnu memang mundur dari posisi direktur utama Pertamina (1976), namun utang dan dugaan korupsi itu tidak pernah masuk ke pengadilan. Jauh sesudah itu baru terbongkar kasus simpanan 80 juta dolar di berbagai bank milik almarhum H. Thaher, salah satu direktur pada jaman Ibnu. Melalui pengadilan yang berbelit-belit, Pertamina memenangi perkara tersebut.

Pada 1998 Menko Pengawasan dan Pembangunan Hartarto menyampaikan tekadnya untuk membersihkan Pertamina dari KKN. Menteri Pertambangan dan Energi Kuntoro juga menyatakan siap menyikat korupsi di Pertamina. Namun gurita bisnis kroni Soeharto yang bisa dipangkas bisa dihitung dengan jari. Departemen Pertambangan dan Energi mencatat ada sekitar 159 perusahaan milik anak, cucu, kerabat dekat, dan kroni Soeharto di Pertamina.

Selama 60 tahun terakhir, setidaknya terdapat begitu banyak skandal korupsi migas. Mulai dari Exxon Balongan, Ustraindo, Blok Cepu, hingga VLCC. Semuanya melibatkan penguasa dan kroninya, yang hingga hari ini tetap menyengsarakan rakyat.

Politik atau kebijakan bisnis migas di Indonesia pada kenyataannya hanyalah sebuah pipa sejarah skandal sekaligus arena untuk laku ekspolitatif terhadap manusia dan dunianya.  Selain menjadi arena perampokan bagi para pengelolanya: aparatus negara yang berselingkuh dengan dunia kapital, ia juga menjadi jalan mulus bagi penganut paham binatang ekonomi untuk melanggengkan candu eksploitasi terhadap lingkungan (alam, sosial, ekonomi, politik dan kultur). Politik migas adalah sebuah alat penundukan dan penghisapan, yang mengabaikan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia (rakyat), terutama  hak-hak ekonomi, sosial dan budaya serta harmoni dunia manusia dengan segala kearifannya.

Masifnya daya rusak korupsi dan berbagai skandal ”ekonomi” di Pertamina,  yang merupakan salah satu bentuk akut korupsi di dunia tambang serta berbagai jenis korupsi dan skandal ekonomi di  Indonesia,  telah melahirkan riak perlawanan balik dari masyarakat. Setelah nurani para jurnalis Indonesia Raya bicara dengan  caranya,  sastrawan Ramadhan KH,  juga bicara. Berbeda dengan  para jurnalis Indonesia  Raya, Ramdhan  yang juga jurnalis , berbicara melalui novel ”Ladang Perminus”.  Melalui Ladang Perminus, Ramadhan mencoba membuat refleksi tentang dunia korupsi di Pertamina yang disebutnya Ladang Perminus.

Bersama riak balik perlawanan yang lain, riak balik jurnalis dan sastrawan terhadap korupsi (di Pertamina) berkembang menjadi arus balik perlawanan terhadap berbagai bentuk korupsi di Indonesia. Muncul berbagai organisasi masyarakat sipil hingga lembaga koasi negara seperti Komisi  Pemberantasan Korupsi (KPK). Gerakan antikorupsi, yang beriringan dengan gerakan antikejahatan terhadap lingkungan dan antipelanggaran hak asasi manusia, terus bergerak dan saling menginspirasi dengan kalangan pekerja seni dan pegiatnya.

Mengangkat lakon ”Ladang Perminus” yang merupakan adaptasi dari novel yang sama ke atas panggung sebagai medium perlawanan terhadap korupsi, kejahatan lingkungan dan HAM sejumlah lembaga seperti Indonesian Corruption Watch (ICW), Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), Mainteater Bandung, Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dengan dukungan ELSAM, Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat, Perkumpulan HUMA, INFID, KontraS Jakarta, Perkumpulan Praxis, Remdec, Voice of Human Rights dan Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan mengadaptasi novel Ladang Perminus menjadi lakon yang akan dipentaskan di dua kota sebagai medium penyadaran terhadap pentingnya perawatan perlawanan terhadap korupsi, pelanggaran HAM dan penjahatan lingkungan.

SINOPSIS

Lakon Ladang Perminus diadaptasi dari novel karya Ramadhan KH berjudul sama Ladang Perminus. Seperti novelnya, lakon ini mengisahkan tokoh utamanya,  Hidayat, seorang bekas pejuang Angkatan 45 yang bekerja sebagai manajer pada perusahaan minyak negara bernama Perusahaan Minyak Nusantara (Perminus)

Hidayat dikisahkan sebagai sosok yang cerdas, jujur, idealis dan setia kepada hati nuraninya sendiri. Selama menjabat dia mencoba bertahan untuk tidak melakukan korupsi dan segala bentuk variannya yang menggelegak di kantornya. Gelegak dan gas korupsi di perusahaan migas itu akhirnya tercium aparat hukum.

Suatu hari beredar kabar bahwa sebuah tim tengah menyelidiki skandal korupsi di kantor itu. Tak pelak seluruh karyawan kantor diliputi ketakutan. Mereka segera berusaha menyelamatkan diri masing-masing dengan berbagai cara. Tetapi dasar dunia kooruptor, jalan yang dipakai pun jalan busuk. Antara lain mereka menyebar fitnah ke mana-mana. Fitnah ditembakkan ke arah orang-orang yang dianggap membahayakan.

Hidayat dan kawan-kawan yang menjalani karir dengan lurus menjadi sasaran empuk desingan peluru fitnah. Hasilnya Hidayat dan sejumlah temannya menjadi korban. Tanpa bukti kesalahan dia dibebastugaskan dari pekerjaannya alias dirumahkan.

Hidayat sangat terpukul oleh hukuman tersebut. Namun isterinya yang tidak kenal lelah dalam memberikan semangat membuatnya tertolong. Hidayat kemudian ”menghibur” diri dengan menangani usaha ternak yang telah dirintis sebelumnya sambil memberikan pelayanan konsultasi kepada para kontraktor asing yang mengetahui reputasinya. Kegiatan itu secara perlahan menyembuhkan rasa frustrasinya. Semangatnya pun bangkit.

Penyelidikan di Perminus berakhir. Hidayat tak terbukti bersalah. Dia pun dipanggil lagi untuk bekerja. Setelah aktif bekerja lagi, Hidayat diberi tugas oleh atasannya, Kahar, ke Singapura. Kahar adalah pimoinan penting perusahaan itu, namun juga menajdi sumber segala masalah di kantornya.

Tugas di Singapura dijalani Hidayat dengan baik. Hasilnya cemerlang. Namun Kahar yang bermaksud mencari untung bagi kepentingannya sendiri, menjegalnya. Kahar berhasil. Tapi karena takut perbuatannya terbongkar dia mencari jalan licik agar Hidayat jatuh. Saat Hidayat mencalonkan diri sebagai gubernur Jawa Barat,  Kahar kembali menyebar fitnah. Hidayat kembali jatuh dan akhirnya memutuskan untuk pensiun.

Suatu hari muncul kabar bahwa Kahar meninggal. Hidayat merasa lega. Tapi hanya sebentar. Sebab  tak lama kemudian muncul kabar bahwa Kahar dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Kekecewaan yang mendalam membuat Hidayat jatuh sakit.

Di rumah sakit dia sempat merenung. Dia menyadari bahwa manusia harus berjiwa besar dalam menghadapi kenyataan hidup meskipun berat dan sulit. Hari terus berjalan.  Suatu hari kabar datang bahwa skandal korupsi di Perminus akhirnya terbongkar.  Hidayat lega**

RAMADHAN KH, penulis novel

Ramadhan K.H. yang nama lengkapnya adalah Ramadhan Karta Hadimadja, dilahirkan di Bandung, pada 16 Maret 1927, dan meninggal di kediamnnya saat tinggal di Cape Town, Afrika Selatan pada 16 Maret 2006 setelah menderita kanker prostat selama kurang lebih tiga bulan.

Ramadhan pernah bekerja selama 13 tahun sebagai wartawan Antara. Tetapi dia lalu minta berhenti karena tak tahan melihat merajalelanya korupsi. Tercatat sebagai mahasiswa ITB dan Akademi Dinas Luar Negeri di Jakarta, namun kedua-duanya tidak tamat. Dia juga pernah bertugas sebagai redaktur majalah Kisah, redaktur mingguan Siasat dan redaktur mingguan Siasat Baru.

Semasa hidupnya Ramadhan terkenal sebagai penulis yang kreatif dan produktif. Ia banyak menulis puisi, cerpen, novel, biografi, dan menerjemahkan serta menyunting. Kumpulan puisinya yang diterbitkan dengan judul Priangan Si Djelita (1956), ditulis saat Ramadhan kembali ke Indonesia dari perjalanan keliling Eropa pada 1954. Kala itu, ia menyaksikan tanah kelahirannya, Jawa Barat, sedang bergejolak akibat berbagai peristiwa separatis. Kekacauan sosial politik itu mengilhaminya menulis puisi-puisi tersebut.

Pada tahun 1965 Ramadhan sempat ditahan selama 16 hari di Kamp Kebon Waru, Bandung, bersama-sama dengan Dajat Hardjakusumah, ayah kelompok pemusik Bimbo yang saat itu menjabat pimpinan Kantor Antara Cabang Bandung. Keduanya ditahan karena dilaporkan bertemu A. Karim DP dan Satyagraha, pimpinan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Pusat yang masa itu dianggap berideologi kiri dan mendukung G-30-S. Karena pertemuan itu keduanya dianggap pendukung G-30-S. Belakangan ia baru tahu bahwa mereka berdua difitnah kelompok lain agar dapat menguasai kantor Antara cabang Bandung. Sesudah 16 hari mendekam di tahanan, keduanya dibebaskan dan pimpinan pusat Antara memindahkannya ke Jakarta.

Pada hari-hari terakhirnya, Ramadhan kembali menekuni kegemarannya di masa lalu, melukis. Salah satu tema lukisan kesayangannya ialah rangkaian pegunungan di belakang rumahnya di Cape Town. Ia meninggal dunia tepat pada peringatan hari ulang tahunnya yang ke-79. Ia meninggalkan istrinya, Salfrida, dua orang putra dari Tines, Gilang dan Gumilang, dan lima orang cucu.

Ramadhan pernah mendapatkan sejumlah penghargaan, antara lain Southeast Asia (SEA) Write Award pada 1993. Pada 2001 ia diangkat menjadi anggota kehormatan Perhimpunan Sejarahwan Indonesia. Selain itu Ramadhan juga merupakan salah seorang anggota Akademi Jakarta. (Diolah dari wikipedia)

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized

“Di Bawah Lapisan Es”

April 21, 2009 · Leave a Comment

Kompas, Surat Pembaca

Selasa, 21 April 2009 | 15:34 WIB

Apakah Mainteater? Mungkinkah hanya sebuah komunitas teater yang mewadahi anggotanya untuk berteater, alat refleksi berekspresi, atau gudang para pencinta seni? Seyogianya tidak hanya itu. Mainteater Bandung adalah lembaga nirlaba yang dibentuk pada 1994 oleh beberapa seniman teater dari Indonesia dan Australia.

Tujuan pembentukannya adalah untuk membina pertukaran kebudayaan antarbangsa melalui pertunjukan teater serta pengkajian seni budaya pada umumnya. Program ini dirintis untuk mengetengahkan visi baru dalam perumusan dan penggalian berbagai kemungkinan pemahaman tentang persoalan interkulturalisme dalam teater. Oleh karena itu, dalam pemilihan naskah dan pementasan, Mainteater tidak main-main.

Di Bawah Lapisan Es menjadi kolaborasi kedua kali antara Mainteater dan Kineruku, sebuah komunitas film independen, setelah sukses mementaskan Electronic City dalam tur di Bandung, Bali, Surabaya, dan Jakarta. Ini merupakan bagian pertama dari tetralogi Das System.

Di Bawah Lapisan Es sendiri adalah naskah kedua setelah Electronic City, yang ditulis Falk Richter, seorang dengan multitalenta. Ia menulis dan mementaskan drama dengan bahasa yang merangkul seni serta menyesuaikan diri dengan dunia bisnis dan dunia perantara yang penuh kritik. Pementasan Di Bawah Lapisan Es disutradarai seniman teater Indonesia dan komandan Mainteater Wawan Sofwan.

Pementasan akan diselenggarakan 15 Mei 2009 pukul 20.00 di Selasar Sunaryo dan 19-20 Mei di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Baranangsiang Nomor 1, Bandung. Diskusi digelar pada 15-16 Mei di Gedung Kesenian Rumentang Siang, sedangkan diskusi terpadu pada 18-23 Mei di UPI, Unpad, dan IPDN. ANITA GAYATRI Pemimpin Produksi

source :

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/21/15341550/Surat.Pembaca.

→ Leave a CommentCategories: news

13 KARYA SENI PERTUNJUKAN MERAIH HIBAH SENI KELOLA-HIVOS

April 3, 2009 · Leave a Comment

Sebanyak 61 proposal karya sudah melewati tahapan seleksi program kompetitif, Hibah Seni Kelola – Hivos oleh tim panelis pertengahan Februari 2009. Hasilnya, telah diputuskan 13 karya seni pertunjukan hasil kreativitas pekerja seni dari seluruh penjuru Indonesia berhak mendapatkan kesempatan untuk didanai.

Proses Seleksi
Proses seleksi Hibah Seni merupakan keputusan kolektif dari sebuah tim seleksi yang terdiri atas orang-orang dari komunitas kesenian yang dinilai memiliki kompentensi dalam bidangnya. Anggota tim seleksi selalu berganti tiap periodenya sehingga diharapkan penilaian yang diambil akan selalu dinamis, multi sisi dan tidak stagnan.

Seluruh proposal diterima dengan batas akhir penutupan 25 Desember 2008 (cap pos) dan dikirimkan kepada tim seleksi untuk diperiksa dan dinilai oleh masing-masing anggota Panel Seleksi. Pada tanggal 18 – 19 Februari 2009 diadakan pertemuan tim seleksi, dimana semua hasil pilihan dikumpulkan dan direkapitulasi. Pada pertemuan ini semua bahan pendukung audio/visual yang dikirimkan pelamar dilihat bersama untuk menjadi bahan pertimbangan. Dari hasil rekapitulasi penilaian dan setelah menyaksikan semua bahan pendukung dihasilkan nominasi yang kemudian didiskusikan lagi untuk akhirnya menentukan para Penerima Hibah.

Pada seleksi Hibah Seni XVII ini jumlah anggota tim seleksi adalah 5 orang, 1 orang merupakan wakil dari Kelola.

Anggota Tim Seleksi Hibah Seni XVII
(disusun menurut abjad)

1. Agung Setyadji (Teater, Jakarta)
2. Amna S. Kusumo (Kelola, Jakarta)
3. Elly Luthan (Tari, Jakarta)
4. Jabatin Bangun (Musik, Jakarta)
5. Nano Riantiarno (Teater, Jakarta)

Jumlah dan Komposisi Proposal yang Masuk
Pada periode ini keseluruhan proposal yang masuk berjumlah 61 buah proposal, dengan komposisi berdasarkan kategori kegiatan sebagai berikut :

1. Karya Inovatif (27 pelamar)
2. Pentas Keliling (34 pelamar)

Penerima Hibah
Pada periode ini terpilih sebanyak 13 Penerima Hibah (disusun menurut abjad), sebagai berikut :

A. Karya Inovatif

1. CAN MACANAN KADUK, tari, karya ADINDA MIRANTI, Jember.
Sebuah karya tari kontemporer dengan berangkat dari kesenian rakyat di Jember yaitu Can Macanan Kaduk. Sebuah kesenian rakyat bernuansa Madura yang dikemas menyerupai jathilan di Jawa Tengah. Adinda, koreografer ingin memperkenalkan lagi kesenian rakyat tersebut sebagai pengingat dan menjadi lebih cinta kesenian rakyat dengan konsep yang baru baik dari sisi nuansa musik hingga alur cerita.

2. INTERUPSI JAMBAL ROTI, teater, karya BENNY YOHANES, Bandung.
Pertunjukan ini memadukan narasi dramatik dengan seni instalasi. Hasilnya, oleh Benny Yohanes disebut juga sebagai Site Installation Theatre, di mana panggung akan disajikan sebagai sebuah situs instalasi bukan sebagai panggung konvensional. Sementara karyanya bermula sebagai respon interpretatif terhadap serial lukisan karya Diyanto yang bertajuk Logico Interuptus yang menggagas makna interupsi. Eksperimen memadukan narasi dramatik dengan seni instalasi dianggap sebagai salah satu potensi kreativitas untuk melahirkan kembali sebuah karya rupa ke dalam bahasa seni pertunjukan.

3. MATRILINI, teater, karya KOMUNITAS SENI HITAM PUTIH, Padang.
Pentas ini mengangkat isu tokoh perempuan dalam konteks prosesi adat dan budaya Minangkabau yang tergambarkan dalam kaba Minangkau. Ia ditempatkan pada limpapeh rumah nan gadang dan diibaratkan sebagai pondasi dari sebuah bangunan. Tokoh Sabai Nan Aluih, Bundo Kanduang dan Gondan Gandoriah mempertegas peran perempuan hingga diberi ruang yang utama. Namun ada pemahaman yang bergeser akibat bias perjuangan gender tersebut terutama karena arus patriarki yang semakin keras dan menyebabkan pincangnya posisi perempuan.

4. HORIZONTAL, GARIS YANG HILANG, teater, karya KOMUNITAS SENI INTRO, Payakumbuh.
Ketertekanan anak didik di sekolah menjadi hal yang menarik untuk dipikirkan. Mereka yang manusia dicekoki dengan hapalan dan dipaksa mereplika orang lain tanpa memertimbangkan kedirian mereka. Garapan teater kali ini mengunakan metode trial and error artinya bahwa proses mnegjawantahkan dari dialog-dialog tersebut mesti melewati fase bongkar pasang dalam keseluruhan alur peristiwa pertunjukan.

5. UNTER EIS, teater, karya MAINTEATER BANDUNG, Bandung.
Unter Eis adalah karya kolaborasi kedua antara mainteater Bandung dan dan Kineruku (komunitas film independen) setelah sukses mementaskan Electronic City yang merupakan bagian pertama dari tetralogi Das System. Sementara Unter Eis sendiri adalah naskah kedua. Pementasan ini akan menggabungkan antara video art dan seni peran. Naskah ini merupakan respon terhadap perekonomian global yang ditulis tahun 2002 namun masih relevan hingga sekarang.

6. TUMADHAH, tari, karya RADITYA ART COMMUNITY, Solo.
Kelompok ini mencoba menuangkan sebuah ritus kesuburan dalam sebuah pergelaran tari tradisi yang samapi saat ini masih dilaksanakan. Ritus ini mempertemukan dua benda berlainan Yaitu lingga dan yoni yang saat ini masih diselenggarakan oleh sebagian komunitas pedesaan dengan mempergelarkan wayang kulit, tayup maupun sholawatan. Ritus kesuburan yang diselenggarakan di daerah perkotaan akan dituangkan dalam dua buah karya tari yaitu Srimpi Kembang Mara yang dipersonifikasi sebagai lingga, serta Lawung Kasenopaten yang dipersonifikasi sebagai yoni.

7. SATU LAWAN SATU, teater, karya TEATER EMBRIO LOMBOK, Mataram.
Kelompok ini mengangkat kelebihan dan keunikan seni teater tradisi melalui eksplorasi komprehensif untuk kemungkinan pengembangan. Pada pentasnya nanti, Teater Embrio akan menghadirkan tokoh lakon teater modern dengan karakter dan roh teater tradisi (Sasak, Lombok) Kemidi Ruad lengkap dengan pola akting tubuh stakatonya. Mereka akan mengusung tema tentang kekuatan dan keberanian individual dalam menghadapi setiap peristiwa yang terjadi baik dalam lingkup sederhana maupun berskala kenegaraan.

8. BERTIGA, teater, karya TEATER GARDANALLA, Yogyakarta.
Pentas yang dilengkap dengan workshop penyutradaraan drama realisme satu babak ini akan ditampilkan dalam monolog. Jika dalam drama realisme satu babak konvensional perspektif karakternya terasa kabur dan subtil, perspekstif dalam Bertiga justru akan lebih terstruktur, cut to cut dan lancar terkoneksi. Monolog ini akan membuka sedikit demi sedikit karakter dan perspekstif yang mereka tampilkan.

9. 90 MENIT YANG HILANG DARIMU, teater, karya TEATER SATU, Bandar Lampung.
Karya Sitok Srengenge ini akan ditampilkan sebagai pertunjukan Teater Puisi berdasarkan kerja kolaborasi antara seniman-seniman teater, sastrawan, tari, multimedia, seni rupa dan musik yang berasal dari Teater Satu Lampung dan Jakarta. Lakon ini di digarap dua tim, tim Teater Satu Lampung akan mengeksplorasi naskah dan pemeranan dibawah arahan sytradara Iswadi Pratama dan akan dipentaskan di Bandar Lampung. Sementara di Jakarta, di bawah arahan Sitok Srengenge, pentas ini akan melibatkan Hartati (koreografer), Cecil Mariani (video art), Seno Joko Suyono (skenografer), Clink (penata cahaya) dan para actor sekaligus pemusik dari Teater Satu.

B. Pentas Keliling

1. PUISI TUBUH, tari, karya ALI SUKRI, Padang.
Karya tari Puisi Tubuh bercerita tentang fenomena manusia dalam menghadapi kehidupan secara global. Zaman postmodern telah menghilangkan batas Antara ruang private dengan ruang publik. Berangkat dari tubuh secara fisikal, yaitu bentuk anatomi dan ruang gerak dan imajinasi. Pentas ini akan mengungkapkan ekspresi dan rasa pada tubuh yang sakit sekaligus juga tubuh yang kuat.

2. AIR, teater, karya KOMUNITAS CCL LEDENG BANDUNG, Bandung.
Persoalan alam merupakan persoalan yang senantiasa kontekstual. Isu ini perlu diangkat sebagai bentuk penyadaran soal lingkungan. Persoalan alam yang bertolak dari air bisa memunculkan masalah sosial, budaya dan ekonomi. Pentas ini akan menghadirkan air dalam bentuk sesungguhnya sekaligus air dalam imagi kreatif. Sementara dari sisi artistik, mereka juga akan menggandeng seniman perupa dengan olahan mutimedianya.

3. TARI PANJI, TARI PAMINDO, TARI RUMYANG, TARI TUMENGGUNG, TARI KLANA dan TARI KLANA UDENG, tari, karya SANGGAR MULYA BHAKTI, Indramayu.
Pentas keliling tari topeng, sebuah karya seni warisan budaya ini dipentaskan sebagai program pelestarian seni tradisi Indramayu. Pentas ini akan diselenggarakan di tempat-tempat yang masih kuat memegang tradisi hajat desa atau hajat tradisi masyarakat Mapag Sri, Sedekah Bumi dan Kunjungan. Selain memeriahkan, pentas ini dimaksudkan supaya lebih mengenalkan kembali tradisi tari topeng yang berkaitan dengan tradisi masyarakat desa.

4. WU WEI DAN SIAPA NAMA ASLIMU, teater, karya KOMUNITAS BERKAT YAKIN, Bandar Lampung. Karya ini merupakan penggambaran kehidupan manusia yang merindukan “rumah” : kampung halaman, keluarga, perjalanan menuju diri. Pementasan ini menggambarkan sebuah kondisi di mana individu-individu menjumpai dirinya melakukan perjalanan yang disadari sebagai perjalanan irasional. Kerinduan untuk kembali menikmati kehangatan “rumah” yang sudah lama ditinggalkan merupakan sebuah realitas yang sifatnya personal akan tetapi dirasakan sebagian besar masyarakat kita saat ini.

Sehubungan dengan hasil seleksi dan pengumuman tersebut, kami berharap Anda, Friends of Kelola berkenan menyebarluaskan kabar gembira ini sebagai bentuk apresiasi dan dukungan pada kesenian Indonesia. Sekian dan terimakasih.

Teriring Salam,

Retno Hemawati
Koordinator Komunikasi

KELOLA Foundation for Arts and Culture
Jl. Cikatomas II no. 33, Kebayoran Baru. Jakarta 12180 – INDONESIA

e-mail : info@kelola.or.id
Mobile: +62.(0)815.793.2169
Telepon: +62.21.739.9311
Fax: +62.21.722.1284
Web : www.kelola.or.id

→ Leave a CommentCategories: news