mainteater

Horor Jimat Cakar Monyet

Mainteater Bandung memindahkan keseraman jimat cakar monyet ke Teater Salihara. Jumat-Sabtu (04-05/04) lalu mereka menjadi kelompok keempat yang tampil di Helateater Salihara 2014. Memainkan lakon Cakar Monyet yang disadur dari cerita pendek “The Monkey’s Paw” karya W.W. Jacobs, Mainteater menunjukkan bahwa ketegangan yang mendirikan bulu roma tidak harus berasal dari sosok menakutkan. Cerita yang membumi, kekuatan pemeranan serta tata artistik Mainteater menghadirkan ketegangan sekaligus teror menyeramkan bagi penontonnya.

Cakar Monyet
Mengambil latar cerita di pinggiran kota Bogor, Cakar Monyet dibuka dengan kehangatan keluarga kecil pensiunan pegawai negeri sipil. Ayah bermain catur melawan anaknya, ibu menyiapkan minuman hangat. Mereka asyik dengan pembicaraan-pembicaraan seputar strategi bermain catur sembari menunggu kedatangan Mayor Untung, teman lama sang ayah. Tamu yang ditunggu akhirnya datang dan meninggalkan jimat cakar monyet dari pedalaman Kalimantan. Jimat itu mampu memenuhi tiga permintaan.

Hingga adegan sang ayah iseng mencoba kemujaraban jimat itu, lakon Cakar Monyet masih terkesan lambat. Dialog panjang dengan bahasa kaku memberondong penonton. Tentang permintaan sang ayah agar mendapat uang Rp 125 juta untuk membeli tanah di pinggir kali dan olok-olok anaknya, Agus, sama sekali tidak memberi ketegangan. Rasa mencekam mulai muncul setelah sang ayah menerima kabar kematian Agus dan dua pegawai tempat Agus bekerja kemudian datang membawa uang santunan dan asuransi yang jumlah seluruhnya Rp125 juta, persis jumlah yang diminta sang ayah melalui cakar monyet itu.

Panggung Cakar Monyet kemudian menjadi suram seiring depresi yang diderita sang ibu yang kerap menunggui kubur anaknya. Dalam keputusasaannya sang ibu memaksa suaminya mengajukan permintaan kedua, menghidupkan Agus. Permintaan itu dituruti dengan sangat terpaksa walau si ayah sudah menjelaskan wajah Agus saat tewas sama sekali tak dikenali akibat hancur tertimpa bangunan. Lampu panggung makin gelap seiring suara langkah berat disusul gedoran pintu, sebagai tanda Agus hidup kembali alias bangkit dari kubur.

Polah dan racau sang ayah yang ketakutan ditimpali teriakan lantang sang ibu yang siap memeluk mayat hidup Agus mengantar penonton pada klimaks ketegangan khas film horor. Hingga di detik terakhir, ketika sang ibu ingin membukakan pintu untuk anaknya yang hidup kembali, sang ayah mengucap permintaan terakhir agar anaknya kembali ke kubur.

“Awalnya klimaks cerita berakhir pada saat tokoh ayah selesai mengucapkan permintaan ketiga,” ujar Sahlan Bahuy, asisten sutradara Cakar Monyet. Menurutnya, sutradara Wawan Sofwan kemudian menambahkan adegan sang ibu merebut jimat cakar monyet sembari mengacungkannya untuk mengucap permintaan. Tiba-tiba lampu padam, pentas pun usai.

Sahlan menyebut, Cakar Monyet disiapkan selama tiga bulan dengan proses perubahan di sana-sini seiring latihan. Pemilihan Bogor dan jimat asal Kalimantan Sahuy sebut bukan tanpa alasan. Bogor yang urban dan kekentalan mistis pedalaman Kalimantan menjadi cara mendekatkan lakon saduran itu dengan penonton maupun pelakonnya. “Dalam melakukan adaptasi cerita kami melakukan riset, bertemu dengan kawan-kawan yang sering bersinggungan dengan dunia mistis maupun riset pustaka,” kata Sahlan.


Ditulis dalam Uncategorized

Tawaran Cakar Monyet

Image

Ulasan pertunjukan “Cakar Monyet” karya W. W. Jacobs

 

Oleh: Wicaksono Rendra*

 

Siapa yang menyangka sebuah keluarga kecil nan harmonis bisa remuk kebahagiaannya hanya karena sebuah cakar monyet yang dikeringkan.

Sebuah studio teater STSI Bandung penuh dengan penonton. Panggung menyala setelah sebelumnya musik mencekam menggiring penonton agar larut ke situasi dan suasana panggung. Dua orang masuk. Duduk di sebelah kanan panggung yang terdapat satu set meja dan kursi santai. Mereka adalah Agus dan Ayahnya. Sedang asik bermain catur di tengah suasana hujan. Ditengah-tengah permainan mereka, lalu sang Ibu masuk melaksanakan tugasnya. Ia membawakan kopi dan beberapa camilan untuk menemani Agus dan Ayah yang sedang asik bertempur.

Menggambarkan harmoni sebuah keluarga kecil yang serba cukup dan bahagia. Di tengah-tengah permainan, mereka berbincang-bincang kemana suka. Membicarakan tentang catur, pekerjaan anaknya yang seorang insinyur di sebuah perusahaan ternama di kota itu, dan pengalaman-pengalaman Ayahnya tentang kehidupan dan kenalan-kenalannya. Tersebut dalam kenangan ayahnya, Ia mengenal seorang tentara berpangkat Mayor yang bernama Untung. Lalu sang Ayah menceritakan keanehan-keanehan pada dirinya hingga tidak lama kemudian Mayor Untung datang dengan membawa seubah tas merah berbahan kulit.

Mayor Untung adalah sahabat Ayah. Mereka menjalani banyak hal bersama dari mulai yang konyol, serius, bahkan berbau klenik dan magis. Sebelumnya, Mayor Untung bercerita bahwa Ia seorang Pecinta Alam. Ia senang bertualang ke seluruh pelosok Indonesia. Banyak hal terjadi padanya termasuk ketika ia bertualang di alam liar Kalimantan, Ia mendapatkan sebuah cakar monyet yang ia dapat dari kenalannya disana. Cara mendapatkan Cakar monyet itu pun agak menyeramkan. Ketika kenalan sang mayor itu sakit ia meminta satu permintaan: kematian. Tidak lama kenalan Mayor itu pun mati dan Cakar Monyet berpindah tangan kepada sang Mayor. Maka, cakar itu dipercaya bisa mengabulkan tiga permintaan.

Awalnya, Mayor hendak membuang Cakar Monyet itu. Ia bersungguh-sungguh selepasnya dari rumah sang pensiunan PNS itu, ia akan membuang Cakar Monyet itu ke sungai. Mayor menganggap Cakar Monyet itu membawa kesialan. Namun, Pensiunan memaksa agar Cakar Monyet jangan dibuang, tetapi diberikan saja padanya. Meskipun Mayor sudah memperingati, Pensiunan tidak mempedulikannya. Pensiunan hanya akan menganggap barang itu sebagai barang antik. Berpindahlah pemilik Cakar Monyet itu.

Ayah dan anaknya, Agus, memainkan si Cakar monyet. Mereka mengabaikan peringatan dari sang Mayor. Mereka berandai-andai ingin minta apa dari Cakar Monyet yang sakti itu. Agus tidak seperti ayahnya yang ragu-ragu tentang kemampuan Cakar Monyet itu. Agus menganggap itu hanya cerita takhayul. Lalu Agus menantang Ayahnya, meminta sebuah permintaan untuk membuktikan bahwa cerita itu tidaklah benar.

Meskipun Agus mengolok-olok dan menertawakan Ayahnya yang gemetaran ketika Ayahnya tetap mengajukan sebuah permintaan. Diangkatnya si cakar monyet tinggi tinggi oleh tangan kanan ayah, dengan suara lantang dan nyaring keluar dari mulut Ayahnya: Uang untuk membeli tanah di samping rumahnya sebesar 125 Juta Rupiah. Lantas, tangan ayah bergetar, meliuk seperti ada yang menggerakan.

Satu menit, dua menit, lima menit, dan tidak terjadi apa-apa. Agus mengecek seisi rumah tapi tidak ada uang yang diminta ayahnya itu. Agus sejadi-jadinya mengolok Ayahnya. Padahal, ketika ayahnya mengajukan permintaan, Cakar Monyet itu bergerak sendiri meliuk seperti ular. Ayahnya diam. Tidak ada yang percaya padanya. Sang ibu lebih memilih perasaannya sendiri, ketakutan dan mengamini peringatan sang Mayor.

Namun ketika pensiunan ditinggal istri dan anaknya, ia diliputi rasa gelisah. Suasana rumah menjadi mencekam. Terjadi perubahan visual panggung. Gambar multimedia bergerak ditambah sound effect yang meneror. Menampilkan gambar-gambar monyet dan ketakutan sang pensiunan. Ia gelisah perasaanya, kalang kabut tidak karuan. Panggung menjadi normal ketika ia memutuskan menaruh cakar monyet di Dapur.

Setelah hari berganti, panggung dalam keadaan pagi. Pensiunan pulang dari joging pagi dan menemukan istrinya sedang menyapu rumah. Suasana baik-baik saja sampai telepon berdering. Mengabarkan kabar duka dari perusahaan anaknya bekerja. Agus meninggal karena kecelakaan kerja. Kondisinya terdengar sangat parah, mustahil untuk diselamatkan.

Dibalut busana hitam, ibunya duduk di meja makan. Menerima pelayat dan sesenggukan menangis meratapi kepergian anaknya yang sudah di liang lahat. Ayahnya datang. Mengabarkan penguburan selesai. Tidak lama, dua orang utusan perusahaan datang. Mereka datang membawa pesan duka dari Direktur dan sejumlah uang. Pertama uang santunan dari perusahaan senilai 25 juta, lalu simpanan koperasi anaknya senilai 100 juta. Ibunya pingsan mendengar jumlah uang yang sama dengan permintaan ayahnya kepada Cakar Kunyuk itu.

Ibunya mulai depresi. Mengetahui anaknya menjadi tumbal si Cakar Monyet. Benda sialan itu membuat ibunya sering ke makam Agus. Ibunya percaya bahwa Agus belum meninggal. Sang ibu dengan kesedihan dalam dadanya, memaksa kepada Ayah agar mengajukan permintaan yang kedua: menghidupkan kembali Agus! Dalam suasana mencekam, suara teror nan merinding, Ayahnya terpaksa melakukan permintaan Ibu. Suaranya lantang memenuhi ruangan. Tidak lama, suara aneh muncul dari luar rumah.

Ibunya sontak bahagia. Membukakan pintu menyambut ingin memeluk anaknya yang bangkit dari kubur. Ketakutan ayahnya tidak tertahankan ketika ia mencegah ibu untuk tidak menyambut anaknya yang bangkit dari kubur. Tanpa pikir panjang dengan suara lantang ia membuat kembali Agus untuk mati dan kembali ke liang lahatnya. Pertengkaran terjadi. Ibunya tidak menerima apa yang dilakukan ayah. Ia merebut cakar monyet di genggaman ayah. Meskipun ayahnya bersusah payah ibunya berhasil merahi Cakar Monyet itu. Permintaan dilantangkan: “Agus kembali hidup!”

Panggung gelap.

 

Menawarkan Realis Yang Magis

Atmosfir supranatural yang dibangun di panggung menjadi kental dalam pementasan ini. Pementasan ini menawarkan kewajaran-kewajaran akting para pemainnya dan bantuan bentuk visual panggung yang dilengkapi penyiasatan multimedia.

Secara sederhana, Garcia Marquez menyebutkan realisme magis adalah “karya sastra yang ditulis sebagaimana kakek-nenek kita bercerita dulu.” Perpaduan antara realitas yang ditabrakan dengan gagasan-gagasan irasional melahirkan plot yang berkesan “merinding”.

Kita bisa membandingkan dengan cerpen-cerpen Danarto yang mengangkat tentang realisme magis. Danarto kerap kali membawa unsur magis yang terkesan spiritual ke dalam cerpennya. Seperti pada cerpen kecubung pengasihan. Seorang bunting pemakan bunga yang menganggap dirinya mengandung tuhan.

Misalnya juga pada naskah drama pemenang festival penulisan di Norwegia yang ditulis Fredrik Brateberg berjudul The Returning (Kembali). Memunculkan irasionalitas yang sengaja di-ulang-ulang untuk memunculkan nilai supranatural dari kenangan-kenangan yang selalu sulit untuk dilupakan berupa kebangkitan orang yang sudah mati.

Pada drama ini, kemunculan irasionalitas muncul pada benda yang dipercaya bisa mengubah garis takdir seseorang. Cakar monyet diyakini bisa mewujudkan keinginan bagi yang meminta pada benda itu. Berbeda dengan lampu aladin yang digosok, Cakar ini cukup diangkat ke atas dan ungkapkan apa yang diminta. Jin pun tidak keluar, tetapi permintaan akan terwujud beberapa hari langsung dan lengkap dengan tumbal yang dimintanya.

Kehadiran irasionalitas dibangun secara bertahap dengan menghadirkan dahulu realitas-realitas. Dibangun dari angka satu sampai angka yang dianggap oleh sutradara paling tinggi. Bermula dari sebuah perbincangan-perbincangan ringan seputar kehidupan sehari-hari. Masih pada realitas nyata karena semua orang juga mengalaminya. Plot mulai bergerak ketika Ayah menceritakan tentang Mayor. Sang Mayor menggerakan plot. Dia bahkan pembawa irasionalitas dengan Cakar Monyetnya yang bisa mengabulkan kata-kata jadi keinginan nyata.

Tokoh Ayah yang natural lalu disupranaturalkan. Melampaui garis kehidupan alami agar bisa meloncat kepada hal yang didambakannya. Cakar Monyet inilah membuat kedambaan Ayah menjadi lebih cepat dicapai. Sepertinya, jika tanpa Cakar monyet pun Ayah bisa memeroleh uang 125 juta untuk membeli tanah. Tanpa loncatan yang diberikan Cakar Monyet, pasti cita-citanya akan lama tercapai. Ayah mesti bekerja keras untuk meraih cita-citanya dan garis natural pun tetap lurus tanpa putus.

Efek horor memang wajar terjadi. Apa yang lebih menyeramkan Ketika keinginan justru dengan mudah diraih melalui tangan monyet yang dikeringkan. Apalagi menurut tokoh-tokohnya, cakar monyet itu meminta timbal balik berupa nyawa Agus. Bisa dibilang, Cakar Monyet kering yang hanya tergeletak jika di meja mampu membeli nyawa dengan harga yang murah. Bukankah sesuatu yang bisa ditebus adalah sesuatu yang bisa dibilang murah.

Kehadiran efek multimedia pada pertunjukan ini menjadi pendukung visulaisasi irasionalitas. Bayang-bayang ketakutan Ayah yang menyelimuti alam pikirannya menjalar ke setiap penjuru rumah berupa gambar-gambar monyet yang bergerak-gerak di dinding. Pigura foto keluarga berubah mejadi foto sepasang monyet. Lalu ketika kebangkitan Agus dari liang lahat, efek angin muncul. Angin Meniup gorden dan kerudung yang selalu dikenakan ibu untuk menghangatkan rasa pilunya atas kematian anaknya. Lampu merah pun turut menyinari ibu yang siap memeluk Agus. Efek-efek ini penting untuk sebuah kedetilan bentuk teater realis yang membangun irasionalitas cerita. Suasana hororpun niscaya terasa ke penonton.

Suspend pada plot cerita juga menjadi menarik ketika sang ayah mematikan kembali agus yang bangkit dari kubur. Tetapi setelah itu ibu memaksa dan melawan takdir kembali dengan menghidupkan Agus.

Meskipun demikian, ada yang patut disayangkan. Sebagai drama realis yang menawarkan kepiawaian aktor dalam memainkan perannya, para aktor cenderung agak tidak wajar dalam berakting. Agak mengherankan ketika terlalu banyak tertawaan pada pelepasan rindu antara Ayah dan Mayor. Mereka selalu tertawa sebelum berbicara kepada satu sama lain. Tokoh Agus yang membawa-bawa OVJ (Opera Van Java) sebuah acara di stasiun televisi swasta juga yang terkesan memaksa penonton agar tertawa.

Demikianlah, tepuk tangan para penonton menjadi penilaian yang cukup bahwa pementasan ini sangat layak dipentaskan di Teater Salihara. Tawaran wacana realis magis pun karena jarang diangkat dan dipentaskan di tanah air. Terlebih lagi ini akan menarik dan bukan saingan film-film komedi horor murahan yang justru lebih menawarkan buah dada dan paha daripada buah pemikiran menuju pencerahan.

Betapa mitos sebetulnya bukan sebuah olokan, tetapi sebuah gaya nasihat dalam bentuk yang khas.

*Penulis – Aktor dan penulis lepas. Bergiat di Teater Lakon UPI.


Ditulis dalam Uncategorized

Cakar Monyet Pembawa Bencana

Image

satulingkar.com

Senin, 07 April 2014

Oleh Vicharius Dian Jiwa

Budi, pensiunan pegawai negeri sipil itu tak sabar menunggu kedatangan Mayor Untung, sahabat lama yang tak ia jumpai selama dua puluh tahun lebih. Mayor Untung yang juga telah pensiun berjanji ingin datang berkunjung setelah mendapat libur dari pekerjaan barunya, kepala keamanan di tambang batu bara, Kalimantan. Budi bercerita pada anak tunggalnya Agus tentang sosok Mayor Untung yang terkenal sangat aneh. Sepanjang hidupnya, kata Budi, Mayor Untung menyukai dunia petualang dan hal-hal yang berbau mitos selalu merekat dalam dirinya.

Agus mendapati kenyataan itu langsung ketika bertemu Mayor Untung. Percakapan dengannya terkesan hangat dan penuh humoris namun hanya satu hal yang membuat ia percaya pada ayahnya ketika si pensiunan tentara itu membawa benda aneh. Ia menyebutnya Cakar Monyet. Mayor Untung menceritakan soal benda aneh itu pada keluarga Budi yang katanya bisa mengabulkan apa saja yang kita inginkan. Sontak keluarga Budi kaget namun merasa lucu dengan mitos seperti itu. Namun rasa penasaran Budi tergantikan ketika ia meminta Cakar Monyet pada sahabatnya.

Karena merasa sudah tidak membutuhkan lagi, Mayor Untung akhirnya menyerahkan Cakar Monyet pada Budi. Namun ia berpesan, bila memang ingin menggunakannya, Budi harus siap dengan segala macam resiko yang datang menghampirinya. Budi akhirnya mencoba mengajukan permintaan pada Cakar Monyet. “Minta saja uang yah, Rp 125 juta, buat modal membeli tanah,” kata Agus pada ayahnya. Budi setuju dan mengajukan permintaan itu. Seketika setelah ia berseru lantang, Budi merasakan ada yang aneh dengan Cakar Monyet. “Benda itu hidup! Dia bergoyang seperti ular!” seru Budi.

Namun Agus dan ibunya yang melihat kejadian itu tak percaya. Mereka menganggap baru saja Budi melakukan hal bodoh dengan percaya pada benda mati. Uang yang diharapkan itu tak akan pernah datang. Anggapan keluarga itu salah. Esok harinya, Budi mendapatkan kabar, Agus anak tunggalnya meninggal karena kecelakaan kerja. Teman-teman Agus datang membawakan uang duka dan uang asuransi yang jumlahnya mencapai Rp 125 juta. Uang yang diminta oleh Budi pada Cakar Monyet benar-benar ada namun ia hadir dengan cara yang paling menyakitkan.

Lakon teater Cakar Monyet itu dimainkan dengan apik oleh kelompok Mainteater Bandung arahan sutradara Wawan Sofwan. Ceritanya diadaptasi dari cerpen horor karya sastrawan Inggris, WW Jacobs. Gaya berakting para aktor terkesan sederhana dengan dialog yang singkat namun teater ini jadi menarik karena tata panggung dan musiknya mampu membawa penonton pada aura mistis. Kita seakan menyaksikan drama horor secara langsung. Lakon itu merupakan bagian dari pertunjukkan sastra mangggung di Teater Salihara, Jakarta yang diputar selama dua hari di akhir pekan ini.


Ditulis dalam Uncategorized

Sekilas tentang WW Jacobs

603613_10202349102146461_157507612_n

Oleh Yopi Setia Umbara*

WW Jacobs adalah nama pena dari William Wymark Jacobs. Ia merupakan salah seorang sastrawan Inggris modern yang penting. Dikenal sebagai penulis prosa. Karya-karyanya banyak dituangkan dalam bentuk cerita pendek (cerpen) dan novel. Salah satu karyanya yang paling populer adalah The Monkey’s Paw.

Jacobs lahir pada 8 September 1863 di Wapping, London. Ia wafat pada usia 79 tahun, tepatnya pada 1 September 1943 di Hornsey, Islington, London. Selama hayatnya ia telah banyak menulis karya-karya prosa yang cukup menarik perhatian pengamat sastra di Inggris.

Saat Jacobs masih kecil, ia dipanggil W.W. oleh teman-temannya. Ia lahir dari keluarga besar, namun bukan keluarga mapan. Ia dikenal sebagai anak pemalu dan cenderung pendiam. Masa kecilnya tersebut ia refleksikan dalam kumpulan cerpennya Light Freights yang terbit pada tahun 1901.

Pada masa awal karir kepenulisannya, untuk menutupi kebutuhan finansialnya Jacobs bekerja sebagai pelayan sipil honorer. Hasil pekerjaannya itu sedikit demi sedikit ia sisihkan untuk ditabung di bank.

Namun, Light Freights bukanlah karya awal Jacobs. Kumpulan cerita pendek pertamanya adalah Many Cargoes terbit pada tahun 1896. Kesuksesan menerbitkan kumpulan cerpennya itu dilanjutkan dengan menerbitkan novelet The Skipper’s Wooig pada tahun 1897. Kemudian pada tahun 1988 ia juga berhasil menerbitkan kemballi sebuah kumpulan cerpen Sea Urchins.

Sampai tiga buah buah buku, dua kumpulan cerpen dan satu novelet yang sukses ia terbitkan membuatnya cukup percaya diri untuk meninggalkan pekerjaan yang selama itu menjadi sumber mata pencaharian. Sejak saat itu ia memilih menjadi seorang penulis.

Tiga tahun berselang setelah novelet pertamanya terbit atau pada tahun 1900, Jacobs bahkan menikahi seorang gadis. Agnes Eleanor, nama gadis yang dipersuntingnya adalah aktivis suffragate (kelompok perempuan yang menuntut kesetaraan profesi di Inggris pada masa itu). Dari hasil pernikahannya itu ia dikaruanai dua orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan.

Dari sekian banyak karya Jacobs, para pengamat di Inggris menyebutkan bahwa novelet At Sunwich Port (1902) dan Dialstone (1904) merupakan karya terbaiknya. Kedua buah novelet tersebut menunjukan kemapanannya sebagai seorang pengarang. Ia mampu menyajikan bakatnya yang unggul, cermat dalam memyusun karakter serta menyuguhkan situasi satir.

Latar belakangnya yang miskin, membuat Jacobs akrab dengan kehidupan kalangan bawah di Inggris. Oleh karena itu, ia sering merepresentasikan kehidupan marjinal di negerinya terebut dalam cerita-cerita yang dikarangnya. Tidak jarang setiap ceritanya menyajikan kejutan-kejutan tak terduga dan mencengangkan pembacanya.

Jejak panjang Jacobs dalam kesusastraan modern Inggris telah menjadi catatan tersendiri, dimana ia mampu menunjukan pengaruh karya-karyanya kepada kesusastraan modern negeri Ratu Elizabeth itu. Bahkan, hingga hari ini.

Selain karya-karya yang telah disebutkan di atas, adalah cerpen “The Monkey’s Paw” yang termasuk dalam kumpulan cerpen The Lady of The Barge (1902). Seperti cerpen-cerpen lain yang terdapat dalam kumpulan The Lady of The Barge, cerpen “The Monkey’s Paw” juga bernuansa horor. Rupanya nuansa yang ia sajikan tersebut berhasil mendapatkan apresiasi yang tinggi dari para penikmat sastra. Malah, bukan hanya penikmat sastra di negeri yang kini terkenal dengan liga sepakbolanya yang terbaik sedunia itu saja, tetapi apresiasi itu datang juga dari berbagai belahan dunia lain.

“The Monkey’s Paw” telah sering diadaptasi ke dalam pertunjukan drama oleh banyak kelompok teater di dunia. Butuh daftar panjang untuk menguraikan banyaknya karya adaptasi dari cerpen ini. Pada tahun 2013 cerpen ini diangkat ke layar lebar oleh salahsatu rumah produksi di Hollywood dengan judul yang sama, disutradarai oleh Brett Simmons.

Maka dari, Mainteater mencoba untuk memperkenalkan WW Jacobs kepada publik Indonesia dengan mengadaptasi cerpen “The Monkey’s Paw” ke dalam sebuah pertunjukan drama. Semoga upaya ini dapat memancing publik Indonesia untuk menelusuri karya lainnya dari salahsatu pengarang penting Inggris ini.

 

………………
*Yopi Setia Umbara, penasehat literatur Mainteater


Ditulis dalam Uncategorized

Preview Pentas Teater “Cakar Monyet”

 dididudidam_cakar monyet copy3

Sinopsis

Sebuah keluarga yang bahagia, tinggal di pinggiran kota Bogor. Seorang pensiunan tentara bertamu ke rumah mereka dan memberi  sebuah Cakar Monyet yang telah dikeringkan. Cakar itu berasal dari pedalaman kalimantan yang telah diberi mantra oleh seorang dukun. Konon cakar itu bisa mengabulkan tiga permintaan. Dengan iseng, sang suami mencoba meminta sejumlah uang. Tiba-tiba keluarga tersebut ditimpa  masalah. Keesokan harinya, dua tamu datang mengabarkan bahwa putra satu-satunya meninggal sekaligus memberikan uang santunan sesuai jumlah yang diminta tadi malam. Setelah itu, rumah mereka dihinggapi suasana misteri.

TENTANG NASKAH

“Cakar Monyet”, adaptasi dari sebuah cerpen “The Monkey’s Paw”, karya WW. Jacob-Pengarang Inggris, ditulis tahun 1904.

Diadaptasi dengan seting peristiwa masa kini di sebuah daerah pinggiran  Bogor.

Tema cerita ini menggambarkan harapan manusia yang melampaui kebutuhannya. Harapan bertransformasi menjadi keserakahan. Keserakahan merupakan hasrat yang tidak akan pernah menjangkau ujung kepuasaan. Segala keinginan yang dicapai akan melahirkan permintaan yang lain, begitu seterusnya. Sehingga hal itu hanya dapat menjerumuskan manusia pada kemalangan. Sebuah kisah yang barangkali membawa misi kepercayaan tradisional, bahwa kita belum tentu benar-benar menginginkan apa yang kita pikir. Kebutuhan dan keinginan yang melampaui keperluan hanya akan membawa kehancuran.

“Cakar Monyet” menghadirkan pertarungan manusia mengungkap takdir dan mistis. Yang pasti dan misteri. Takdir merupakan kepastian, namun keterbatasan manusia mengungkapnya, mengakibatkan takdir bertransformasi menjadi sesuatu yang penuh misteri. Pun sebaliknya, mistis merupakan sesuatu yang penuh misteri, penuh ketidakpastian dan ketidakjelasan, namun karena keterbatasan manusia mengungkapnya, mistis kemudian melahirkan asumsi-asumsi dalam mengejar kepastian.

Keluarga dalam kisah “Cakar Monyet” dihadapkan pada situasi obscure dalam mengungkap kepastian takdir dan mistis. Sehingga, karena keterbatasan logika manusia, mereka terjerembab pada upaya kesia-siaan dalam mengungkap takdir dan mistis.

Apakah kematian anaknya itu ada hubungannya dengan permintaan si ayah atau memang peristiwa kecelakaan biasa? Itu menjadi pertanyaan kita tatkala pertama kali membaca cerpen Jacob.

“Cakar Monyet” merupakan karya klasik bergenre horor. Teater bergenre horor sangat jarang dipentaskan di Indonesia. Hari ini, khususnya dalam industri hiburan semacam sinetron bahkan film kebanyakan di negeri ini, horor lebih sering diterjemahkan dalam visualisasi atau sekadar teror audio. Kehadiran pocong, sundel bolong, tuyul, dan musik mengerikan dan sebagainya seakan-akan jadi syarat mutlak sebagai unsur horor dalam genre tontonan tersebut. Celakanya, hampir setiap produk sinetron atau film horor demikian stereotip sehingga masyarakat menganggap horor mesti ada hantunya atau visualisasi yang menyeramkan.

Horor, sesungguhnya bukan sekadar teror audio visual yang dipaksakan hadir secara kasat mata belaka. Akan tetapi, merupakan suasana yang tercipta dari bangun peristiwa secara utuh. Kausalitas alur yang jelas, perwatakan yang kuat,  serta intensitas penuturan yang terjaga dalam suatu cerita dengan tema mistis atau kematian tidak lagi membutuhkan visualisasi atau audio banal berlebihan untuk menyajikan sesuatu yang disebut horor.

Unsur lain dari horor “Cakar Monyet” adalah transformasi tentang kebahagiaan, keluarga yang penuh kasih, menjadi orang-orang yang terjerumus ke dalam ketragisan kematian dan kesengsaraan. Sehingga penciptaan horor dibangun atas pergolakan situasi batin dan pikiran antar tokoh.

Ensamble mainteater

Pemain                      : Asep Budiman, Gaus FM, Rinrin Chandraresmi, Deden Syarif,  Agung Kurniawan, Heliana Sinaga dan Sahlan Bahuy

Sutradara                  : Wawan Sofwan

Asisten Sutradara    : Sahlan Bahuy

Artistik                       : Kang Rosyid dan Deden Bulqini

Penata lampu            : Aji Sangiaji

Penata Musik/efek suara  : Uge Gunara

Penata panggung            : Boyan, Shanty, Yuda Kalimullah, Chepy, Ade ii, Yosi

Penata Kostum                 : Ken Atik

Penata rias                        : Taufik S. Pasopati

Manajer panggung          : Surya Ipril

Pimpinan Produksi         : Femia Yamaniastuti

Tim produksi              : Pradetya Novitri

Desain Grafis                    : Didi

Penasehat Literatur         : Dea Widya dan Yopi Setia Umbara

 

Set Design

1060476_10202256048060167_340641400_n 1624909_10202256050100218_1437384782_o 1982856_10202256049620206_471030661_o 1624871_10202256050260222_1154460620_o 1982596_10202256047980165_67781110_o 1083357_10202256048020166_24277430_o Desain panggung cakar monyet 1 1978049_10202256047940164_292880077_o 1981397_10202256049900213_933593440_o 1970789_10202348729337141_124787505_n 603613_10202349102146461_157507612_n


Halaman Berikutnya »

    Twitter Terbaru

    • Mohon doa untuk segala kelancaran proses. Rencananya kami akan mementaskannya di Bandung & Jakarta pada bulan Agustus 2014 1 month ago
    • Masing2 menyoroti tema yang berbeda yakni intervensi pemilik media terhadap berita, suap, dan kasus tewasnya Udin yang belum terungkap. 1 month ago
    • 3 Fragmen tersebut berjudul "BER(C)I(N)TA" karya Zulfa Nasrulloh, "UPACARA UDIN" karya Mohamad Chandra, dan "KABAR BURUK" karya Roby Aji 1 month ago
    • 3 Fragmen pendek memotret media dan jurnalisme di Indonesia telah tuntas. Selanjutnya persiapan untuk dipentaskan. 1 month ago
    • 3 fragmen pendek ini ditulis oleh penulis-penulis muda; Zulfa Nasrulloh, Roby Aji, Mohamad Chandra Irfan. 1 month ago
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.