KORAN TEMPO, Kamis, 24 Juli 2003
BANDUNG — Menjelang adegan berakhir, Pak Kancil, Nuri, dan seorang nenek sedang mencari atap lokomotif warna hitam. Saat itu atap tergeletak di depan penonton. Namun, ketiga karakter itu tidak melihat atap yang ukurannya nyaris 1 meter persegi itu. “Itu! Itu!,” teriak penonton yang mulai merasa gemas.
Tak tahan membiarkan Pak Kancil kebingungan, seorang anak lelaki turun dari tangga Ampliteater. “Ini,” kata si bocah sambil memberikan atap kepada para pemain. Melihat ulah seperti itu, orangtua atau kakak yang mengantarkan adiknya nonton teater Kereta Api Bumel itu jadi tertawa terpingkal-pingkal.
Gara-gara ulah spontan penonton, kata dramaturg Wawan Sofwan, ada adegan yang terpotong. “Mau apa lagi,” ujarnya tersenyum. Setelah pertunjukan selesai, banyak anak-anak yang jadi mengidolakan para aktor dan aktris.
Keberhasilan pementasan Kereta Api Bumel oleh kelompok Mainteater (Koran Tempo, 22 Juli 2003) itu tak bisa dilepaskan dari keberadaan Wawan Sofwan. Dialah sumber dari karya yang memperoleh acungan jempol penonton. Tak sekadar jempol penonton anak-anak, sebuah harian terkemuka di Australia, The Sunday Age, pernah memberi bintang empat untuk Mainteater dan Wawan Sofwan saat pentas di Australia.
“This is a complleting, extremly entertaining production that moves easly between the ligth-hearted and the dark, the playful and the deadly serious. Given the range of mood in the piece, the ensemble performance is very smooth and director Sandra Long keeps thinks tense until the end,” tulis Steven Carroll, penulis The Sunday Age, soal pementasan Happy 1000…1000 Bahagia oleh Mainteater Bandung-Melbourne di Victorian Arts Centre, Australia, 22 Oktober 2000.
Tentu saja, perjalanan menuju Melbourne tak semudah membalikan telapak tangan. Ada banyak anak tangga yang harus dilewati Wawan. Perjalanan karier Wawan dimulai dari sebuah kampus yang terletak di pojok utara kota Bandung. Insitut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung namanya. Kini berubah nama jadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Suatu hari di tahun 1984, Wawan menjadi mahasiswa baru. Dalam benaknya, “Menjadi mahasiswa, berarti harus aktif,” jelas pria kelahiran Panjalu, 17 Oktober 1965 ini. “Dulu saya ingin masuk Mahacita.” Mahacita adalah organisasi mahasiswa petualang di alam bebas di IKIP.
Tapi, garis tangannya menujumkan hal yang berbeda. Wawan terjarik ajakan seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Namanya, “Mahpudi,” ucap Wawan sambil mengarahkan bola matanya ke atap rumah. Akhirnya, Wawan mulai masuk dunia teater. Sejak menjadi mahasiswa baru, Wawan berlabuh di Teater Mahasiswa IKIP Bandung.
Perkenalannya dengan dunia teater tergolong tanpa hambatan. “Kebetulan saya suka baca novel,” kata Wawan. Jadi, imajinasi dalam novel bisa dengan mudah ditumpahkan ke atas panggung menjadi karakter yang dikisahkan.
Berada di atas panggung sebenarnya tak pernah terbesit dalam rencana Wawan. “Dari awal, nggak bermimpi,” tutur pria yang sewaktu kecilnya pernah jadi penjaga tiket kawasan wisata Situ Lengkong, Bandung ini. Kata Wawan, orang-orang di tahun 1985-an masih memandang para aktor teater sebagi orang-orang gila. Opini ini sempat menyurutkan niat Wawan menjadi pemain teater, karena ia agak kurang percaya diri. Apalagi, keluarga Wawan mengharapkan agar Wawan jadi seorang guru bersatus pegawai negeri sipil. Harapan itu hingga kini masih tersimpan di hati orangtua Wawan.
Tapi, dunia teater tidak mengenal kamus malu. Wawan yang semula mengaku pemalu ini lama-lama menjadi aktror yang tidak malu-malu. Keterampilannya berakting di panggung menghapus perasaan tak yakinnya.
Sejak itu, Wawan ditempa dengan latihan teater yang keras. Dia menjadi tahu apa itu ketekunan, menghargai pendapat, kerja tim, dan tentu saja ilmu berakting. Di waktu yang sama, Wawan juga tertarik pada dunia tulis menulis. Dia mengikuti penerbitan pers mahasiwa di jurusan Kimia IKIP, Kemi At Sekola.
Dari sanalah, ia mengenal dunia pergerakan mahasiswa. Dia lalu terjun menjadi aktivis. Karena aktif di pergerakan mahasiswa, Wawan jadi dekat dengan seniornya, Teten Masduki. Teten kini jadi tokoh Indonesian Coruption Wacth di Jakarta. “Tapi tidak lama,” jelas Wawan soal hubungannya dengan Teten.
Namun, pada akhirnya dia menilai bahwa dunia pergerakan selalu berteman dengan manusia yang satu kepentingan. Wawan pun mengambil langkah mundur dan berpamitan dengan kawan-kawan aktivisnya. Tapi, “Mereka mengerti sikap saya,” ujar Wawan.
Konsentrasi Wawan kembali ke dunia teater. Ia menginjak keras pedal gas kegiatan berteaternya. Tahun 1986, dia mengikuti kursus akting di Studiclub Teater Bandung (STB). Di sana Wawan menemukan dunia yang baru. “Di IKIP saya merasa sudah senior. Ketika datang ke STB, saya jadi yunior lagi,” katanya tersipu-sipu.
Menurut Wawan, dunia teater yang kembali dia geluti, benar-benar mengasyikkan. Terlebih ketika Wawan dipercaya ikut berperan dalam naskah King Lear bersama almarhum Suyatna Anirun, pendiri STB.
Saking asyiknya, ia lupa dengan rumus-rumus Kimia di jurusannya. Tapi Wawan tak ambil pusing. Strategi “yang penting lulus dari kampus” dia jalani. “Kuliah itu hobi,” kata Wawan tertawa kecil.
Karena di anggap hobi, jam-jam berada di kelas justru dipakai Wawan untuk menghafal naskah. “Entah kenapa, kalau menghafal naskah di dalam kelas, saya cepat ingat,” kata Wawan sambil mengangkat tangan dan pundaknya.
Dari naskah dan peran yang dimainkannya, Wawan banyak belajar tentang demokrasi, etos kerja, dan miniatur dunia dalam panggung. “Di dalam teater kita belajar tentang demokrasi, seperti menghargai pendapat,” ujar Wawan. Di sini ia tambah yakin kalau teater memang kehidupan itu sendiri dan membuat dia kukuh untuk hidup di dunia teater hingga kini.
Dalam kehidupan berteater, ada dua pria yang mempengaruhi kematangan Wawan. Pertama Godi Suwarna. “Dia yang mengajarkan saya tentang etos kerja di teater,” ujar Wawan. Hasilnya, ia mereasa, “Benar-benar tergodok,” katanya. Pria kedua adalah almarhum Suyatna Anirun. Dari almarhum, Wawan belajar tentang kesabaran. “Dia menghargai orang lain. Sabar, tenang,” jelas Wawan sambil menghela nafas.
Kematangan Wawan dilanjutkan dengan membentuk kelompok teater sendiri. Mainteater dia dirikan pada 1995 bersama Arades, Ahir Hidayat, dan Deden Abdul Azis. Di Indonesia, mereka yang konsisten di Mainteater adalah IGN Arya Sanjaya, Otong, Oli, Ami, dan Dedi.
Tahun itu pula, Wawan dikirim kampusnya ke Australia. Di sana dia mendapatkan jaringan sesama pecinta teater, di anatranya Sandra Long. Bersama bule Asutralia ini jugalah Mainteater akhirnya mempunyai “cabang” di Asutralia. “Nama Mainteater saya yang mengusulkan. Karena elastis, punya makna di kedua kata,” tukas Wawan.
Sejak itu, “Dua tahun sekali saya harus ke luar negeri. Kegiatan itu bisa menambah wawasan,” kata Wawan. Di Jerman, misalnya, ia bisa menyaksikan hebatnya pementasan yang dilakukan para aktor di tempat naskah Faust lahir itu. Atas bantuan Goethe Institut dia sempat menjalani kehidupan empat bulan di sana.
Bagaimana dengan Australia? Di sanalah Mainteater mengukir prestasi. Sebagai kelompok yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan jarang bertemu, Mainteater justru mendapat penghargaan bergengsi berupa The Melbourn Fringe Theater Award 2000.
Di Indonesia, sejumlah pementasan bermutu, baik berupa monolog, atau pentas teater lain, mereka tampilkan. Wawan sebenarnya berminat masuk dunia film. Namun, selalu saja ada jadwal pementasan yang bentrok. Jadi, sampai saat ini minatnya belum kesampaian.
Ada juga niat-niatnya yang lain. Dia sangat tertarik untuk membuat sebuah gedung pertunjukan. Katanya, dengan sebuah gedung pertunjukan sendiri, latihan tidak usah lagi nebeng tempat orang lain, karena bisa, “Menggangu konsentrasi,” ujarnya.
Namun, untuk menwujudkan niatnya itu jalannya masih panjang. Lihat saja, penghasilan Wawan. Jika ada pementasan teater, paling besar honor yang diterimanya hanya Rp 300 ribu. Kecuali pementasan monolog, “Karena tak banyak yang terlibat, bisa mendapat 2 sampai 3 juta rupiah,” ujar Wawan.
Mohamad Sanjaya dari Actor Unlimitted Bandung mengungkapkan kekagumannya terhadap Wawan. Dia, “Aktor yang hebat. Dia itu bukan aktor yang bersekolah berlatar belakang teater. Kalau dia berlatar belakang teater, saya malah ragu,” kata Sanjaya. bobby gunawan
http://www.korantempo.com/news/2003/7/24/Budaya/1.html