mainteater

Dunia Aktor

September 11, 2007
Tinggalkan Sebuah Komentar

Koran Tempo Edisi, 11 September 2007

Sebuah pementasan teater baru saja usai. Dua orang aktor buru-buru memasuki ruang rias. Yang lebih tua, Bob, tampak gusar. Seraya membuka jas dengan rusuh, ia mengumpat, “Payah, dasar tukang mabuk, tak tahu sopan santun!” Dia menyimpan jas begitu saja di atas kapstok. Yang lebih muda, John, menimpali, “Siapa Bob, siapa?”

Itu adalah adegan Kehidupan di Teater yang digelar kelompok Actors Unlimited di Pusat Kebudayaan Prancis (CCF), Bandung, 7-8 September lalu. Pementasan itu untuk mensyukuri 8 tahun Actors Unlimited sekaligus 70 tahun usia salah seorang pendirinya, aktor senior Mohamad Sunjaya.

Wawan Sofwan, sang sutradara, mengatakan lakon tersebut bersumber dari naskah drama Kehidupan di Teater (A Life in the Theatre) karya seniman teater Amerika, David Mamet. Menurut Wawan, naskah ini cukup baik melukiskan pernak-pernik pergaulan manusia universal di belakang panggung.

Drama ini mengisahkan kehidupan pergaulan dua orang aktor dari generasi berbeda di panggung dan di luar panggung. Mereka adalah aktor muda John (Wrachma Rachladi Adji), yang sedang penuh semangat menggapai sukses, serta aktor tua Robert alias Bob (Mohamad Sunjaya), yang mulai menurun dan cemas.

Sepanjang pementasan, kedua tokoh yang digambarkan tengah terlibat beberapa produksi pementasan itu berceloteh intim tentang pernak-pernik keseharian dunia teater, tentang penonton, ataupun tentang kelakuan masing-masing. Si tua begitu cerewet mengomel, memuji, atau mengejek si muda. Sebaliknya, si muda berusaha tetap menghormati si tua walaupun dengan hati kesal.

Tidak seperti naskah aslinya yang terdiri atas 33 adegan, pentas itu diperas menjadi 14 adegan. Selain untuk memelihara stamina penonton, kata Wawan, peringkasan dilakukan mengingat stamina Sunjaya yang tengah didera sakit jantung. Selain itu, Wawan mengubah beberapa adegan agar lebih kontekstual dengan keseharian di Bandung.

Alhasil, meski secara keseluruhan pentas dengan tata panggung minimalis itu terasa datar, upaya tersebut cukup berhasil membuat penonton betah sekaligus tergugah memberikan apresiasi spontan. Tepuk tangan dan gelak tawa menggema saat penonton menanggapi sejumlah dialog dan adegan. Erick Priberkah Hardi

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2007/09/11/Budaya/krn.20070911.110696.id.html


Ditulis dalam news
Tags:
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.