Halaman Depan Jurnal Nasional Jakarta | Minggu, 23 Nov 2008
by : Dwi Fitria
Electronic City adalah sebuah lakon yang berbicara tentang keterasingan manusia di abad teknologi. Adaptasi Electronic City dari naskah karya Falk Richter-seorang sutradara asal Jerman-ini ditampilkan oleh kelompok Mainteater, Bandung dan Kineruku di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki pada Kamis (20/11).
Tom seorang pebisnis, secara rutin melakukan perjalanan bisnis dari satu kota ke kota yang lain di dunia. Namun masalahnya, segala sesuatu di dunia Tom begitu seragam. Sehingga meski sebenarnya sudah berpindah tempat, Tom merasa ia selalu berada di tempat yang sama.
Ia hidup di sebuah dunia yang amat sangat mengandalkan kecanggihan teknologi. Dunia dimana hidup tanpa peralatan canggih macam, blackberry, pda, laptop, dan berbagai alat elektronik lain adalah sesuatu yang tak terbayangkan. Segala sesuatu direduksi menjadi sederet angka, daftar-daftar nomor dengan barcode.
Di belahan dunia lain, terdapatlah Joy, seorang perempuan muda yang kerap berganti pekerjaan. Suatu hari ia mendapatkan pekerjaan sebagai kasir di sebuah café di salah satu airport internasional itu. Joy berada dalam kesulitan karena alat pembaca barcode yang menjadi tanggung jawabnya rusak. Antrian menjadi makin panjang, dan para pembeli yang sebagian besar terdiri dari para pebisnis menjadi gusar dan memaki-maki Joy.
Electronic City mencemooh ketergantungan manusia pada teknologi dan memberikan gambaran apa yang akan terjadi jika alat-alat itu tak lagi berfungsi. Manusia modern akan tercerabut dari kenyamanan dan rutinitas yang telah membuat pikiran menjadi tumpul, dan membuat segala sesuatu menjadi sama. Sosok Tom digambarkan mengalami disorientasi, dimana ia tak lagi bisa mengenali waktu dan tempat. Sementara Joy mengalami kepanikan luar biasa.
Selain itu, naskah ini juga memberikan gambaran pada para penontonnya akan efek penyeragaman yang menjadi sampingan buruk dari globalisasi. Dimana segala sesuatu menjadi sama, dan apa yang terdapat di belahan dunia yang satu juga ada di belahan dunia lainnya.
Manusia menjadi begitu homogen. Dalam kasus Tom bahkan apa yang dirasakan pun menjadi sesuatu yang amat generik. Sehingga dalam sebuah adegan dengan sosok-sosok lain yang sekilas tampak benar-benar sama dengan Tom, baik dari cara berpakaian dan cara bercakap, mereka semua seolah merasakan hal dan rasa frustasi yang sama. Manusia menjadi sama, tetapi mereka terasing satu sama lain.
Beragam alat elektronik yang dibuat untuk mempermudah kehidupan manusia juga membuat mereka terasing satu sama lain. Tom bahkan terasing dari diri dan perasaannya.
Paruh pertama pertunjukan ini amat menarik untuk ditonton, terutama karena temanya yang mengkritisi efek modernisasi terhadap kehidupan manusia modern.
“Perasaan ini sendiri kerap saya rasakan saat tiba di sebuah airport di kota-kota besar di dunia. Jika kita menengok ke kiri sudah pasti ada duty free misalnya. Saking seragamnya, nyaris tak ada yang bisa dipakai untuk membedakan airport-airport internasional itu,” ujar Wawan Sofwan sutradara pertunjukan ini.
Namun meskipun muram, bukan berarti kehidupan manusia modern tak lagi memiliki harapan. Sosok Joy dan Tom mendapatkan kembali sebagian kemanusiaannya saat mereka menemukan cinta satu sama lain.
Bagi Mainteater, ini bukan kali pertama mereka mementaskan karya Falk Richter. Pada 2002 hingga 2003, kelompok ini pernah mementaskan God Is A DJ yang merupakan salah satu karya terbaik Richter.
Tawaran untuk mementaskan naskah drama ini sudah diajukan oleh Goethe Institut sejak beberapa tahun lalu. Pada 2005, Goethe Institut menawari Wawan untuk membuat dua naskah Arturo Ui karya Bertold Brecht atau Electronic City, saat itu ia lebih memilih yang pertama.
Namun baru kini pementasan bisa direalisasikan. “Krisis ekonomi global yang melanda akibat kejatuhan bursa di Amerika menjadikan apa yang ingin disampaikan oleh pertunjukan ini menjadi relevan lagi,” ujar Wawan.
Falk Richter membuat naskahnya pasca peristiwa 11 September yang amat menentukan arah politik dunia. Electronic City sendiri merupakan bagian pertama dari tetralogi Das System. Setelahnya Richter membuat lagi Unter Eis (Di Bawah Es), Hotel Palestine, dan Amok.
Richter sendiri merupakan sosok seorang pemikir kritis yang anti neoliberalisme dan globalisasi. Ia juga kritis melihat dominasi Amerika di atas dunia, yang menyebar melalui berbagai cara, media, gaya hidup, makanan. Selain itu Richter juga menentang Perang Irak. Naskah-naskahnya yang kritis amat kontekstual dipakai melihat kondisi dunia saat ini. Tak terkecuali di Indonesia.
Electronic City yang dimainkan oleh Mainteater sebelumnya telah ditampilkan di Bandung, Denpasar, dan Surabaya. Kota-kota besar yang tentu tak asing dengan tema dan pesan yang coba disampaikan oleh pertunjukan ini. Semoga saja pesannya mengena.
Dwi Fitria
Tom (played by Kemal Ferdiyansyah) struggles to find his way back to Joy, his girlfriend in Electronic City, a satirical play on globalization and the technological age written by German playwright Falk Richter. (JP/Ricky Yudhistira)
Tom is dismayed and confused. He always has the feeling of arriving, but never leaving. He travels a lot but does not feel like he’s moving anywhere. He thinks he was already there in that building before, though he is also convinced he was never there.
“My brain recognizes everything even when I know, no, I was never here before, there’s no way I can recognize this, but the rooms always look exactly alike, the rooms say: *Welcome home’. But Goddamn it, this is not my home!” he cries aloud.
He runs erratically before finally falling to the floor. He would not be that confused, he thought, if only he had brought his cell phone.
Tom, a typical mobile businessman, is the protagonist in the play Electronic City by German playwright Falk Richter.
It was performed Thursday by Bandung-based Mainteater troupes in collaboration with filmmakers from Kineruku at Taman Ismail Marzuki arts center’s Graha Bhakti Budaya hall.
Directed by Wawan Sofwan, the multimedia play that combines theatrical acts, filmic backgrounds and other digitized media wittily reflects the runaway world we live in today.
It is a world where globalization has made everything look similar everywhere — from Berlin to Jakarta.
Hotel rooms always boast similar architectural designs, similar wallpapers, similar furniture, and even similar reproduced impressionistic paintings, Wawan said.
Shopping outlets in every airport now look alike and sell the same stuff you never need, he added.
Electronic City, also known as EC, depicts the way globalization — the spread of multinational corporations and the technological compression of time and space — has violently disrupted our mode of living.
An outright critic of globalization and neo-liberalism, Richter wrote the play to assault the world wide web of capitalism and human beings’ hyper-dependence on communication technology.
It is Richter’s second play performed by Mainteater following God is a DJ, which was also directed by Wawan Sofwan six years ago.
EC is the first part of the Das System tetralogy written by the playwright — an outspoken critic of U.S. policies and media — as a response to the 9/11 tragedy. The other three parts are Unter Eis, Hotel Palestine and Amok.
The play has only two identified characters: Tom and Joy, who were superbly played by Kemal Ferdiansyah and Atin Rustini.
“The others are people with no identity. They are nothing but a collection of incomprehensible voices, monologues, comments, inner thoughts, reflections and narration,” Wawan said.
The story begins with Tom, who is suddenly lost in Electronic City without his cell phone, organizer and laptop. He cannot recognize the city in which he is nor can he recall from which city he comes from and to which city he is going to.
He is always in a rush without knowing the reasons why, always spitting dirty words over and over again to ease his anger for failing to recall the numbers he is obliged to recall — all stored in the gadgets.
Tom has to dive in a “sea of numbers” to pass his days. He has to recall phone numbers, pin numbers, meeting dates, flight schedules, etc.
Meanwhile, Joy is a temporary worker in an airport lounge who finds her infrared barcode scanner broken while dealing with grouchy businessmen who keeps yelling at her.
Tom and Joy are lovers but they are too preoccupied with their Sisyphusian tasks to learn about one another more deeply.
Apart from its heavy philosophical content, the play tells the usual boy-meets-girl story, but in a very quirky way.
The two meet at an airport security check point. Joy is late and has to shove her way through the crowd to stand in front of Tom.
He pushes her and they quarrel only to be arrested by security officers, who detain them in a glass cube.
There they chat, have sex and fall in love. The officers are watching but the travelers are unsure whether the obscene spectacle is just a promotional gimmick, a recorded porn movie or the shooting of a porn movie about sex in public places.
It is hard to determine the real and artificial in the play, which is carried in three dramatic realities: on-stage, off-stage and on-screen.
The play narrates that Tom and Joy are only actors in a film, or perhaps a reality show — this was deliberately left unclear.
“This actually has become a common symptom of today’s people. They always feel like they are listening to unknown voices who tell them what to do,” Wawan said.
The people who played the directors sat among the audience. At times they were fully detached from the play, but at other times they were absurdly involved in it.
A multimedia performance, EC is filled with mind-boggling hyperrealistic scenes.
Despite the shabby curtain screen, video artists from Kineruku were able to produce the artistic hyperreality of Tom’s world — the endless hallways, the bland hotel rooms, the mind-numbing television scenes.
With such limited time and technical facilities, Mainteater and Kineruku managed to bring to stage — and also off-stage — an entertaining and fantastic hybrid art show that reminds us of the dangers of the technological and globalized world.
It is probably true that Richter’s depiction of technology is too depressing, pessimistic and dystopic, but, alas, we never know — perhaps such is the way we live today.
Oleh : Dwin Gideon
Sinar Harapan, Sabtu, 22 November 2008, HIBURAN, No. 6053
Jakarta – Ketika keteraturan sudah mulai berakibat kejenuhan, Falk Richter tanpa ragu menanggapinya dengan mengumpat: “F…!”
Dalam bentuk seni pertunjukan apa pun, kata umpatan biasanya dihindari. Bila ternyata adegan mengumpat tidak bisa disingkirkan, sensor pun menjadi jalan yang sering ditempuh. Penulis naskahnya yang warga Jerman Falk Richter, melihat nilai lain dari umpatan tersebut. Dia justru mencoba membalikkannya menjadi sesuatu yang bisa menjadi semangat dari cerita yang ditampilkannya.
Hal tersebut dapat dilihat dalam karyanya yang bertajuk “Electronic City”. Kejenuhan, kesumpekan, dan kemarahan terungkap dalam istilah yang sepertinya sudah sering kita dengar, “F…!” Satu kata dalam bahasa Inggris, mengandung artian yang akan mengundang sensor. Umpatan yang kata-katanya juga diungkapkan dalam bahasa pasaran pada beberapa kota di Indonesia.
Sutradara Wawan Sofwan dari kelompok Mainteater, Bandung pun merasa enggan membuang adegan umpatan ini dalam karya adaptasi “Electronic City” yang digelar pada pementasan di Graha Bhakti Budaya TIM, Jakarta, Kamis (20/11).
“‘Electronic City’ adalah kisah percintaan antara Tom dan Joy yang berlatar kehidupan supermodern, di mana jarak dan waktu menjadi begitu nisbi,” kata Media Relation Mainteater, Ori Prisepti dalam siaran persnya.
Tom (Kemal Ferdiansyah) adalah pebisnis sejati, yang ruang lingkup kerjanya telah mendunia. Joy (Atin Rustini) adalah pekerja paruh waktu yang memiliki wilayah kerja tak terbatas. Mereka hidup di dunia di mana segalanya terakses lewat kombinasi angka, mulai dari nomor HP, komputer, kamar hotel dan apartemen, juga jadwal penerbangan, dan lain-lain. “Semuanya merupakan deretan angka yang sama sekali tak boleh dilupakan, karena jika alpa maka semuanya berantakan,” kata Septi.
Bersamaan dengan itu, kehidupan sosial antarmanusia pada zaman itu juga menjadi lebih tegas. Komunikasi antarmanusia dibentuk lewat pekerjaan individual, yang selanjutnya membentuk warna komunikasi tersendiri bagi zaman itu. Profesionalisme menjadi istilah yang tepat untuk menggambarkan situasi komunikasi semacam ini.
Dengan komunikasi, kesalahan sedikit saja dapat memicu amarah yang besar. Karenanya, kebiasaan mengumpat menjadi hal biasa. Wajar bila Falk maupun Wawan jadi enggan menyingkirkan adegan umpatan atau menyensornya. Sebaliknya, kata “F…!” sering muncul di tiap bagian, kedua sutradara justru menjadikannya sarana yang bisa mengajak penonton untuk ikut marah, terharu, atau bahkan tertawa.
Dekonstruksi Pemahaman
“Electronic City” tak hanya mencoba menembus tembok tabu, tetapi juga mencoba mengubah kebiasaan yang kerap ditampilkan dalam pertunjukan teater.
Setting cerita ditampilkan dengan frame pembuatan film. Narator yang biasanya bertugas menggiring adegan ke adegan, justru jadi bersikap seolah sutradara. Ada tiga narator yang tidak hanya menjelaskan latar di tiap bagian, tetapi tak segan juga ikut mengatur akting para pemain seperti halnya sutradara dan kru film. Bahkan, di salah satu bagian, seorang narator berani berteriak, “Cut!” dan adegan pun terhenti.
“Dalam tuturan visual, lakon ini terbagi dalam tiga latar,” kata Septi. Offstage (luar panggung) adalah tempat sutradara dan para kru film berada. On stage (di atas panggung) tempat Tom dan Joy, juga para pemain lainnya, bermain. Serta on screen (dalam layar) tempat tampilnya gambar-gambar latar, yang juga dijadikan media untuk menyampaikan tuturan film yang diproduksi oleh tim film.
Pada tingkat tertentu, pertunjukan teater ini bisa disamakan dengan opera. Ada bagian di mana para pemain juga bernyanyi, diiringi musik latar. Perubahan karakter pencahayaan pun menjadi lebih berwarna.
Upaya sang sutradara menyajikan multi-media dalam pementasan “Electronic City” dapat dilihat sebagai pembaharuan pemahaman dalam pola pertunjukan yang ingin ditampilkan. “Electronic City” juga mengubah pemahaman banyak orang tentang apa itu teater.
Di satu bagian, narator juga berperan sebagai sutradara film, yang tiba-tiba menghentikan pertunjukan untuk beristirahat selama tiga menit. Penonton ada yang heran, meskipun banyak juga yang memanfaatkannya untuk “bertandang” ke toilet.
Teater memang menyimpan segudang pakem dan aturan. Keberhasilan meracik semua unsur itu pada akhirnya ditentukan juga oleh keindahan yang ditampilkan di atas panggung. Dari sisi itu, Teater Electronic City menyisakan pertanyaan, selain sajian eksperimen yang ditawarkan. n
Copyright © Sinar Harapan 2008
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0811/22/hib01.html
Teater Garasi Yogyakarta bekerja sama dengan Mainteater Bandung dan teater Lakon UPI mempersembahkan sebuah monolog berjudul “Laki-laki Itu Mengaku sebagai Jamal” oleh Jamaluddin Latif. Monolog digelar di Gedung Auditorium PKM UPI, Jalan Setiabudhi Nomor 229, Bandung, pada 22-23 November 2008 pukul 19.30. Harga tiket masuk Rp 10.000. (*/dmu)
Sunday, 16 November 2008
SURABAYA (SINDO) – Teater berjudul Electronic City menutup rangkaian Festival Cak Durasim 2008 tadi malam. Delapan personel Mainteater Bandung itu memainkan kisah percintaan antara Tom dan Joy Tom yang diperankan Kemal Ferdiansyah keluar terlebih dulu.
Di atas panggung berlatar layar lebar itu dia menceritakan kesehariannya sebagai businessman sejati dengan ruang lingkup kesibukan yang mendunia. Dalam cerita yang berdurasi 120 menit itu, Joy yang diperankan Atin Rustini juga menceritakan kesibukannya yang luar biasa sebagai pekerja part time.Di tengah pekerjaannya sebagai kasir, Joy mulai bingung dengan alat hitungnya.
Menariknya, tuturan kisah tersebut juga frame pembuatan sebuah film. “Ada tiga latar dalam teater ini,yaitu off stage (luar panggung), on stage (di atas panggung), dan on screen (dalam layar),”kata Zhu Khie Thian selaku pimpinan produksi.
Tuntasnya Festival Cak Durasim 2008 tadi malam ditandai dengan pemberian Cak Durasim Award kepada Ta u f i k u r r a c h m a n . Koreografer asal Sumenep ini berhasil mewujudkan ikon tari legenda Keraton Sumenep. (emi harris / zaki zubaidi)