Teater Lakon dari Utrecht – Belanda, bekerjasama dengan Teater Garasi dan Yayasan Umar Kayam Yogyakarta mengadakan tour teater boneka berjudul “Monyet Loe!” di kota-kota di Jawa Tengah (Solo, Delanggu, Tawangmangu, Wonogiri, Pati, Tegal, Slawi), Jawa Barat (Bandung kota, Lembang, Ciwidey, Majalengka), Medan, Aceh Tenggara (Ketambe, Lawu Aunan), Jakarta, dan Yogyakarta pada 1 Juli- 31 Agustus 2010.
“Monyet Loe!” adalah sebuah pertunjukan teater visual dengan menggunakan boneka dan topeng. Pertunjukan untuk anak-anak ini bercerita tentang persahabatan antara seorang anak jalanan dengan orangutan. Tokoh orangutan diambil berdasar pada tema pertunjukan yaitu tentang pengrusakan hutan yang dilakukan oleh manusia sehingga beberapa habitat hewan liar terancam punah.
Boneka-boneka dan topeng-topeng dibuat oleh Aletta Smeets dan Ista Bagus Putranto, dua aktor untuk pertunjukan ini. Dalam proses kreatifnya, mereka mencari kombinasi teknik-teknik teater dan aspek-aspek kebudayaan perpaduan antara Indonesia dan Belanda.
Pertunjukan ini telah dikelilingkan di Belanda pada tahun 2009 lalu dan dikelilingkan untuk anak-anak Indonesia pada tahun ini.
Ada dua alasan yang melatari tour ini yaitu:
1. Di Belanda, banyak teater untuk anak-anak, tapi mayoritas tidak ada ‘isi’ atau ‘pesan’ yang disampaikan ke anak-anak.
2. Di Indonesia, banyak teater yang mengandung ‘isi’ atau ‘pesan tertentu, tapi tidak banyak teater untuk anak-anak.
Harapannya, pertunjukan ini bisa menjadi alternatif hiburan baru untuk anak-anak, sekaligus menanamkan dasar pemikiran kepada mereka tentang pentingnya menyelamatkan hutan untuk mempertahankan kehidupan yang ada di dalamnya.
Sinopsis pertunjukan:
Di dalam hutan dimana suara burung-burung dan serangga-serangga terasa memabukkan, ada dua anak orangutan yang sedang bermain, yaitu Hanoman dan kakaknya, Subali. Ketika mereka terlalu asyik bermain sehingga tersesat, Hanoman diambil oleh seorang pemburu liar. Dia dibawa ke kafe di pinggir kota dan sebagai hiburan untuk tamu-tamu kafe itu.
Hanoman sangat sedih hidup dalam sangkar, dia hampir tidak dipelihara dan dia dipaksa menari dengan rok merah jambu. Suatu hari dia berkenalan Anton, anak jalanan yang sering berteduh di teras rumah mewah dimana Honaman dipenjara. Anton sadar bahwa mereka bisa saling membantu berjuang untuk hidup dalam lingkungan masyarakat yang keras. Ketika Hanoman berada dalam situasi yang berbahaya, Anton membantu temannya sekali lagi.
Di samping pertunjukan, dalam tour ini juga ada kegiatan workshop dan diskusi.
Ada dua macam workshop yang disiapkan yaitu:
1. Workshop membuat boneka (hanya untuk anak-anak)
2. Workshop bermain boneka (untuk anak-anak dan orang dewasa)
Tim Kerja:
Sutradara: Jan Smeets dan Trudie Lute
Aktor & Fasilitator: Aletta Smeets dan Ista Bagus Putranto
Penata Musik: Doni Wijanarko
Manager Produksi: Reni Karnila Sari dan Willeke Colenbrander
Tour teater boneka ini terselenggara berkat dukungan Impulsis, Kedutaan Besar Belanda, Anak Wayang Netherland, Yayasan De Beer dan Rumah Bambu. Bekerjasama dengan Teater Ruang – Solo, Institut Seni Indonesia – Surakarta, Yayasan Pongo – Aceh, Orangutan Information Center (OIC) – Medan, Dance Art – Medan, Erasmus Huis – Jakarta, Pondok Anak Pertiwi – Jakarta, Theater for Development (TDE) – Jakarta, Main Teater – Bandung, Balai Bahasa Bandung, Yayasan Ibu dan Child Fund Germany – Bandung, Jatiwangi Art Factory – Majalengka, Teater Qi – Tegal, Karta Pustaka – Yogyakarta, Sanggar Anak Alam – Yogyakarta, Anak Wayang Indonesia – Yogyakarta.
Foto – foto monyet loe!
Tinggalkan sebuah Komentar
Belum ada komentar.







