mainteater

MAINFEST # 1

MAINFEST # 1 merupakan mainteater festival, dimana mainteater akan menyelenggarakan sebuah event yang didalamnya mencakup pameran dokumentasi mainteater berupa naskah-naskah teater, poster, booklet dan video karya seni pertunjukan mainteater selama beberapa dasawarsa dan pertunjukan live serta pertunjukan dalam bentuk show case.

Mainfest akan menyuguhkan beberapa show case yang mengangkat wacana aktual yang terjadi di masyarakat. Selain aktual, naskah-naskah yang dipentaskan juga baru alias belum dipentaskan. Wacana urban menjadi sorotan utama yang akan diketengahkan.

Urbanisasi bukan hanya perpindahan penduduk secara berduyun-duyun dari desa (kota kecil, daerah) ke kota besar (pusat pemerintahan) atau perubahan sifat suatu tempat dari suasana (cara hidup) desa ke suasana kota, melainkan menjadi ladang subur tumbuhnya peradaban baru. Urbanisasi kemudian menjadi masalah utama peradaban.

(more…)


Ditulis dalam news, press, program

“Di Bawah Lapisan Es”

Kompas, Surat Pembaca

Selasa, 21 April 2009 | 15:34 WIB

Apakah Mainteater? Mungkinkah hanya sebuah komunitas teater yang mewadahi anggotanya untuk berteater, alat refleksi berekspresi, atau gudang para pencinta seni? Seyogianya tidak hanya itu. Mainteater Bandung adalah lembaga nirlaba yang dibentuk pada 1994 oleh beberapa seniman teater dari Indonesia dan Australia.

Tujuan pembentukannya adalah untuk membina pertukaran kebudayaan antarbangsa melalui pertunjukan teater serta pengkajian seni budaya pada umumnya. Program ini dirintis untuk mengetengahkan visi baru dalam perumusan dan penggalian berbagai kemungkinan pemahaman tentang persoalan interkulturalisme dalam teater. Oleh karena itu, dalam pemilihan naskah dan pementasan, Mainteater tidak main-main.

Di Bawah Lapisan Es menjadi kolaborasi kedua kali antara Mainteater dan Kineruku, sebuah komunitas film independen, setelah sukses mementaskan Electronic City dalam tur di Bandung, Bali, Surabaya, dan Jakarta. Ini merupakan bagian pertama dari tetralogi Das System.

Di Bawah Lapisan Es sendiri adalah naskah kedua setelah Electronic City, yang ditulis Falk Richter, seorang dengan multitalenta. Ia menulis dan mementaskan drama dengan bahasa yang merangkul seni serta menyesuaikan diri dengan dunia bisnis dan dunia perantara yang penuh kritik. Pementasan Di Bawah Lapisan Es disutradarai seniman teater Indonesia dan komandan Mainteater Wawan Sofwan.

Pementasan akan diselenggarakan 15 Mei 2009 pukul 20.00 di Selasar Sunaryo dan 19-20 Mei di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Baranangsiang Nomor 1, Bandung. Diskusi digelar pada 15-16 Mei di Gedung Kesenian Rumentang Siang, sedangkan diskusi terpadu pada 18-23 Mei di UPI, Unpad, dan IPDN. ANITA GAYATRI Pemimpin Produksi

source :

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/21/15341550/Surat.Pembaca.


Ditulis dalam news

13 KARYA SENI PERTUNJUKAN MERAIH HIBAH SENI KELOLA-HIVOS

April 3, 2009
1 Komentar

Penerima Hibah Karya Inovatif

UNTER EIS, teater, karya MAINTEATER BANDUNG, Bandung.
Unter Eis adalah karya kolaborasi kedua antara mainteater Bandung dan dan Kineruku (komunitas film independen) setelah sukses mementaskan Electronic City yang merupakan bagian pertama dari tetralogi Das System. Sementara Unter Eis sendiri adalah naskah kedua. Pementasan ini akan menggabungkan antara video art dan seni peran. Naskah ini merupakan respon terhadap perekonomian global yang ditulis tahun 2002 namun masih relevan hingga sekarang.


Ditulis dalam news

Menghidupkan Gugatan Bung Karno

Februari 16, 2009
1 Komentar

Senin, 16 Februari 2009 | 09:04 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: “Revolusi bukan berarti melanggar hukum. Tapi, berarti radikal. Perubahan yang radikal. Kami bukan kaum yang sabar. Bukan kaum ular kambang!” Penggalan pidato proklamator Bung Karno itu bergema kembali pada Kamis, 12 Februari di aula Balai Pelatihan Guru (BPG) Denpasar. Yang menyuarakan adalah aktor dan sutradara teater Wawan Sofyan.

Pendiri Main Teater Bandung itu tampil dalam monolog tunggal berjudul Indonesia Menggugat. Ia mencuplik naskah pidato Soekarno dengan judul sama dan dibacakan oleh Presiden Pertama Republik Indonesia itu pada 18 Agustus 1930 sebagai pembelaannya di depan Pengadilan Negeri Kolonial Bandung. “Naskah aslinya 70 halaman. Saya ambil intinya untuk pidato sekitar 20 menit,” Wawan mengungkapkan.

Untuk penampilan itu, hanya cara berpakaian Bung Karno yang dimirip-miripkan, yakni jas dan celana putih serta peci hitam di kepalanya. Ekspresi wajah maupun intonasi suara merupakan ekspresinya sendiri. Namun, beberapa ciri pengucapan bahasa Indonesia oleh Bung Karno tetap dipertahankan. Misalnya, kebiasaan memberi tekanan pada kata awalan “di-” dan akhiran “-i” dalam suatu kata.

Wawan yang lahir di Panjalu, 17 Oktober 1965, sudah mulai mementaskan naskah itu pada 2002. Berawal dari kekagumannya pada aktor William Patty Radjawane yang pada 1990-an dikenal sebagai spesialis pembaca pidato Bung Karno.

Ia lalu mulai melakukan riset dengan mengumpulkan naskah-naskah pidato serta rekaman suara sang proklamator. Untuk memperdalam penghayatan, latar belakang sejarah mengenai pidato-pidato itu juga dilahapnya. Begitu pun dengan suasana batin Bung Karno saat menyampaikan pidatonya.

Monolog itu kemudian mengantarkannya ke sejumlah negara. Penampilan resmi pertamanya di Moskow, Rusia, pada 2002, di depan para Soekarnois yang tak bisa pulang sejak 1965. Ia kemudian berkeliling ke sejumlah negara Eropa, termasuk ke Belanda.

Penampilan di Deen Hag, menurut dia, merupakan yang terbaik karena saat itu pementasan digelar di sebuah museum yang menyimpan barang-barang milik Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) hasil rampasan saat menjajah Indonesia. “Ada kemarahan yang menggelegak,” kata dosen tamu di University Malaya-Kuala Lumpur ini.

Penampilan Wawan di Bali difasilitasi oleh sejumlah lembaga swadaya masyarakat Nasional yang sedang mengadakan evaluasi program kerja di Bali. Pementasan juga melibatkan kelompok teater dan sastra Bali Komunitas Sahaja.

Menurut Willy Pramudya dari LSM Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), monolog Bung Karno cocok dengan situasi saat ini, keteka imperialisme masih kuat berakar meski dalam bentuknya baru berupa neoliberalisme. “Kita ingin memetik semangat Bung Karno itu,” ujarnya.

ROFIQI HASAN


Ditulis dalam news

Dunia Tanpa Identitas

Halaman Depan Jurnal Nasional Jakarta | Minggu, 23 Nov 2008

by : Dwi Fitria

Electronic City adalah sebuah lakon yang berbicara tentang keterasingan manusia di abad teknologi. Adaptasi Electronic City dari naskah karya Falk Richter-seorang sutradara asal Jerman-ini ditampilkan oleh kelompok Mainteater, Bandung dan Kineruku di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki pada Kamis (20/11).

Tom seorang pebisnis, secara rutin melakukan perjalanan bisnis dari satu kota ke kota yang lain di dunia. Namun masalahnya, segala sesuatu di dunia Tom begitu seragam. Sehingga meski sebenarnya sudah berpindah tempat, Tom merasa ia selalu berada di tempat yang sama.

Ia hidup di sebuah dunia yang amat sangat mengandalkan kecanggihan teknologi. Dunia dimana hidup tanpa peralatan canggih macam, blackberry, pda, laptop, dan berbagai alat elektronik lain adalah sesuatu yang tak terbayangkan. Segala sesuatu direduksi menjadi sederet angka, daftar-daftar nomor dengan barcode.

Di belahan dunia lain, terdapatlah Joy, seorang perempuan muda yang kerap berganti pekerjaan. Suatu hari ia mendapatkan pekerjaan sebagai kasir di sebuah café di salah satu airport internasional itu. Joy berada dalam kesulitan karena alat pembaca barcode yang menjadi tanggung jawabnya rusak. Antrian menjadi makin panjang, dan para pembeli yang sebagian besar terdiri dari para pebisnis menjadi gusar dan memaki-maki Joy.

Electronic City mencemooh ketergantungan manusia pada teknologi dan memberikan gambaran apa yang akan terjadi jika alat-alat itu tak lagi berfungsi. Manusia modern akan tercerabut dari kenyamanan dan rutinitas yang telah membuat pikiran menjadi tumpul, dan membuat segala sesuatu menjadi sama. Sosok Tom digambarkan mengalami disorientasi, dimana ia tak lagi bisa mengenali waktu dan tempat. Sementara Joy mengalami kepanikan luar biasa.

Selain itu, naskah ini juga memberikan gambaran pada para penontonnya akan efek penyeragaman yang menjadi sampingan buruk dari globalisasi. Dimana segala sesuatu menjadi sama, dan apa yang terdapat di belahan dunia yang satu juga ada di belahan dunia lainnya.

Manusia menjadi begitu homogen. Dalam kasus Tom bahkan apa yang dirasakan pun menjadi sesuatu yang amat generik. Sehingga dalam sebuah adegan dengan sosok-sosok lain yang sekilas tampak benar-benar sama dengan Tom, baik dari cara berpakaian dan cara bercakap, mereka semua seolah merasakan hal dan rasa frustasi yang sama. Manusia menjadi sama, tetapi mereka terasing satu sama lain.

Beragam alat elektronik yang dibuat untuk mempermudah kehidupan manusia juga membuat mereka terasing satu sama lain. Tom bahkan terasing dari diri dan perasaannya.

Paruh pertama pertunjukan ini amat menarik untuk ditonton, terutama karena temanya yang mengkritisi efek modernisasi terhadap kehidupan manusia modern.

“Perasaan ini sendiri kerap saya rasakan saat tiba di sebuah airport di kota-kota besar di dunia. Jika kita menengok ke kiri sudah pasti ada duty free misalnya. Saking seragamnya, nyaris tak ada yang bisa dipakai untuk membedakan airport-airport internasional itu,” ujar Wawan Sofwan sutradara pertunjukan ini.

Namun meskipun muram, bukan berarti kehidupan manusia modern tak lagi memiliki harapan. Sosok Joy dan Tom mendapatkan kembali sebagian kemanusiaannya saat mereka menemukan cinta satu sama lain.

Bagi Mainteater, ini bukan kali pertama mereka mementaskan karya Falk Richter. Pada 2002 hingga 2003, kelompok ini pernah mementaskan God Is A DJ yang merupakan salah satu karya terbaik Richter.

Tawaran untuk mementaskan naskah drama ini sudah diajukan oleh Goethe Institut sejak beberapa tahun lalu. Pada 2005, Goethe Institut menawari Wawan untuk membuat dua naskah Arturo Ui karya Bertold Brecht atau Electronic City, saat itu ia lebih memilih yang pertama.

Namun baru kini pementasan bisa direalisasikan. “Krisis ekonomi global yang melanda akibat kejatuhan bursa di Amerika menjadikan apa yang ingin disampaikan oleh pertunjukan ini menjadi relevan lagi,” ujar Wawan.

Falk Richter membuat naskahnya pasca peristiwa 11 September yang amat menentukan arah politik dunia. Electronic City sendiri merupakan bagian pertama dari tetralogi Das System. Setelahnya Richter membuat lagi Unter Eis (Di Bawah Es), Hotel Palestine, dan Amok.

Richter sendiri merupakan sosok seorang pemikir kritis yang anti neoliberalisme dan globalisasi. Ia juga kritis melihat dominasi Amerika di atas dunia, yang menyebar melalui berbagai cara, media, gaya hidup, makanan. Selain itu Richter juga menentang Perang Irak. Naskah-naskahnya yang kritis amat kontekstual dipakai melihat kondisi dunia saat ini. Tak terkecuali di Indonesia.

Electronic City yang dimainkan oleh Mainteater sebelumnya telah ditampilkan di Bandung, Denpasar, dan Surabaya. Kota-kota besar yang tentu tak asing dengan tema dan pesan yang coba disampaikan oleh pertunjukan ini. Semoga saja pesannya mengena.
Dwi Fitria

http://jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&sec=Halaman%20Muka&rbrk=&id=72974&detail=Halaman%20Muka

 


Ditulis dalam news
Tags:
Halaman Berikutnya »
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.